umdah

Malam 12 Rabiul Awal (Cerbung)

Umdah.co- Sang surga menyentuh langit di ufuk timur, memancarkan bias jingga yang lama kelamaan memerah dan menghitam di sapu langit malam. Hewan malam mulai beratraksi menunjukkan akrobat dilangit yang diselimuti rembulan, sang rembulan terpancar indah merasakan kedamaian dimalam kekasih Allah SWT yaitu Muhammad SAW terlahirkan ke dunia ini. Suasana damai dalam alunan shalawat terdengar sayap-sayup diudara. Mushalla komplek putri Mudi Mesjid Raya Samalanga Penuh sesak dengan para santriwati yang memancarkan aura kebahagiaan disetiap raut wajah. Smuanya sibuk dengan bersahalawat, ada yang membuat lingkaran dan bershalawat bersama, ada juga yang hanya duduk sendiri dengan mulut komat-kamit membacakan shalawat.

“ Aula? Halangankan (Haid)? “ Tanya najwa begitu memasuki asrama mushalla baru lantai dua no satu kiri.
“ Iya kak, kenapa ? “
“ Tandain tempat tuk kakak ya ! kakak mau jama`ah dulu. “
“ Aula bareng anak lokal kak. “

“ Oh. . . Ya sudah. “ raut wajah najwa berubah buram, najwa ingin berada di barisan terdepan, memang sudah kebiasaan bagi santriwati Mudi pergi ke komplek putra tiap ada acara, seperti mala mini acara mauled nabi. Nggak usah jama`ahan aja kak ! didepan udah banyak yang antri, nanti kakak nggak bisa pergi lagi karena tidak ada tempat lagi, nggak mungkin kan kakak nggak pergi. Ini maulid nabi loo kakak. “ tukas Mut Manyak cadel begitu saja dan pergi menuju kedepan untuk antrian kekomplek putra hanya untuk merayakan hari lahir baginda Muhammad SAW. Najw amulai gelisah, ia tidak mungkin kehilangan moment shalawat bersama ini, hanya setahun sekali, bayangan perjuangan Rasulullah memperjuangkan martabat wanita menjatuhkan bening diujung matanya.

“ Kenapa kak? Sakit? “ Tanya Aiza, Najwa hanya diam dengan fikiran sibuk mencari cara agar jamaa`ah tetap dan kekomplek putrapun berada ditempat yang strategis. Aiza yang hanya didiamkan pergi menusul cut manyak yang telah pergi lebih dulu.

“kenapa kak ? sakit ?” Tanya Aiza, Najwa hanya diam dengan pikiran sibuk mencari cara agar jama’ah tetap dan komplek putra pun berada ditempat yang strategis . Aiza hanya didiamkan pergi menyusul Cut Manyak yang telah pergoi lebih dulu.

“Biarlah … Allah yang mengatur semuanya, mungkin demnjgan jama’ah, nantinya aku akan berada didepan, ituklan kehendak Allah “. Tukas Najwa mengakhiri kebisuannya, ia menghapus lembut pipinya yang basah, dan kemudian mengambil mukenanya hendak menuju kemusalla. 15 menit lagi tiba azan Isya’, Najwa akan memanfaatkanmya untuk melanjutkan bacaan surat An-Nisa’ yang sempat terputus. “Kak Pit tidak pergi ?” Tanya Najwa ketika berjumpa dengan kakak yang satu asrama dengannya.

“Insyaallah, nanti barengan sama Najwa dan Niza aja, kalian jama’ahan terus, Niza udah duluan tuh, katanya nungguin Najwa dimusalla”. Jawab Kak Pit. Najwa tersenyum menanggapi jawaban Kak Pit, paling tidak ia mendapatkan dua orang kawan untuk kekomplek putra “Yaallah mudahkanlah urusan ku…” gumam Najwa.

20.30
Jama’ah selesai, najwa membuka Qur’an kecilnya dan membacanya sesaat, ia kemudian bangun hendak meninggalkan musalla. Santriwati yang berjama’ah tersentak ketika melihat antrian para santriwati yang berjejeran penuh sesak. Ini diluar dugaan sebelumnya, antusias para santriwati bagai semangat para pejuang dimedan perang, dengan lembaran shalawat ditangan mereka sudah berdiri rapi, sigap dan teratur. Para ustazah yang mengontrol pun turun lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan, semua orang merasa heran, tidak seperti biasanya antrian panjang dan sesak seperti malam ini. ‘Cepat Dek…! Tukas Kak Niza, Najwapun bersiap-siap secepat mungkin, Kak Pit yang mampu duduk diranjang menunggu mereka bersiap-siap. Jam telah menunjukkan pukul 20.45, mereka selesai dan mengatur lamhkah menuruni tangga, ke WC dulu sebelum berangkat, itu sudah lumrah.

Tidak lama Najwa dan kawan-kawannya menunggu, antrian yang desak-desakan satu persatu telah menuju kekomplek putra. Antara cemas, Najwa dan kawan-kawan berdesakan hanya untuk mendapat tempat duduk yang strategis, dan akhirnya Najwa dan Niza mendapatkan tempat duduk didepan pintu kamar Bilek Beton, berhadapan dengan tempat duduk Abu, tempat yang cukup mantap, tidak telalu kedepan dan juga tidak kebelakang, yang penting berhadapan dengan Abu. Najwa tersenyum sumringah, ia tau Allah telah menetapkan iradah-Nya, walaupun dengan wajahb sedikit kecewa karena terpisah dengan Kak Pit yang bergabung dengan rombongan cut Manyak, Aiza, Marlitya, Dila, Maya, dan Saumi. Namun raut wajahnya memancarkan kebahagiaan.

Acara dimulai, Mudi Mesjid Raya Samalanga menggema. Suara penuh kebahagiaan ,mendayu diudara membesarkan Kekasih allah. Abu duduk bersahaja disinggasananya bak raja yang bijak didepan rakyatnya, mulutnya membacakan shalawat, walau tanpa terdengar suaranya namun telah menanamkan benih damai dalam setiap penghuni Ma’had. Dibalik kacamatanya, Abu memandang para pejuang dihadapannya, jiwanya mendoakan kebahagiaan unyuk penghuni Ma’had. Penghuni Ma’had tersirami do’a-do’anya, penuh duka dan suka menyibak sukma.

Bersambung....

Related

Cerbung 9042193558475878539

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item