umdah

Dikotomi Pendidikan Agama (Opini)

Umdah.Co- Beranjak dari keadaan negeri ini mengenai literature perjalanan lembaga pesantren di Indonesia menggelitik saya untuk menulis tentang permasalahan yang terjadi di negeri burung garuda ini, permasalahan yang menimbulkan polemik diantara masyarakat sekalipun malah terlihat seperti membungkam akan tetapi permasalahan ini sudah memasuki pola pikir kita.

Indonesia memiliki dua lembaga pendidikan yaitu lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan agama, berlanjut dari lembaga itu ternyata terdapat kesenjangan yang segnifikan tentang dikotominya dengan pendidikan agama ketimbang pendidikan umum, hal ini dapat kita lihat dari kalangan kita tentang sedikitnya pendidikan agama yang diakui oleh pemerintah kita, bahkan kebanyakan lembaga pesantren tidak memiliki sertifikat atau pengakuan dari pemerintah, disetiap lapangan pekerjaan dilingkungan pemerintah baik itu guru, atau dokter atau PNS lainnya harus memiliki ijazah dan untuk lingkungan pelajar pesantren hal demikian sulit untuk terjadi karena keabsahan lembaga yang tidak ada pengakuan dari pemerintahan.

dkhotomi pendidikan agama dan islam

Banyak sebab mengapa dikhotominya pendidikan agama yang membuat kita harus menelusuri kembali sejarah pendidikan negeri ini dizaman penjajahan kolonial Hindia Belanda . seorang orientalis yang sudah mempelajari akar kekuatan masyarakat pribumi Indonesia mengubah sistem pendidikan negeri ini, Snock Hugroje orientalist yang menyamar sebagai muslim bernama Abdul Ghafur memisahkan pendidikan agama dan pendidikan umum , memisahkan kepentingan agama yang bersih dari kehidupan pepolitikan kemudian mengucilkan pendidikan agama menjadi pendidikan yang tidak diakui, tidak formal bahkan dianggap tidak menjamin masa depan dan terlampau tidak bermutu seperti yang kita cicipi dimasa ini keberhasilan orientalis itu menuai keberhasilan dan kesuksesan. Para pelajar dipesantren memiliki ruang lingkup pekerjaan yang sedikit dan itu kebanyakan bersifat masip dan cenderung mandiri , sekalipun ada pelajar dari lingkungan pesantren yang berada dalam literatur pemerintahan, maka harus melalui pendidikan foermal umum yang diakui pemerintah padagak agama tidak bisa dipisahkan dari aspek apapun dalam kehidupan ini terlebih masalah pendidikan yang sangat mendasar.

Disamping itu keterbatasan umur pelajar formal membatasi [elajar yang berumur tua untuk menuntut ilmu seperti bagi lansia yang tidak boleh mengecap pendidikamn formal bahkan lembaga pendidikan pemerintah tidak membenarkan lagi pelajar yang menganggur tiga tahun untuk melanjutkan lagi ketingkat perguruan tinggi dan disudut yang lain pemerintah hanya membuka pekerjaan untuk pelajr lulusan lembaga formal yang diakuinya.

Masalah semacam ini membuat kita benar benar harus kembali menelisik (merujuk) kemasa lampau sebelum Indonesia merdeka bahkan sebelum itu Indonesia hanya mengenal pendidikan pesantren misalnya dinegeri jawa yang dibawa oleh sultan malik Ibrahim sebagai bapak para wali songo dan pada abad yang ke 19 lebih 14.277 lembaga pesantren terdata di jawa.tidak hanya itu masyarakat Indonesia dari lembaga pesantrenlah yang sangat berperan dalam perlawanan penjajahan kolonial belanda dan emprialist jepang sekaligus sangat berperan dalam kemerdekaan Indonesia, tapi kenapa dengan pendidikan Indonesia sekarang? Mengapa pendidikan agama masih terus saja dikotomi oleh pemerintah sendiri? Hal semacam ini pula mengingatkan kita pula tentang hadist Nabi Muhammad saw:
“Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan hingga liyang lahat” 

Rasulullah menyuruh kita menuntut ilmu dimasa itu sejak kita lahir hingga kita meninggal, hal demikian menunjukkan bahwa menuntut imu adalah hal yang penting untuk kita pelajari sampai umur kita semuanya kita gunakan untuk menuntut ilmu yang bukan seperti sistem pemerintahan sekarang yang membatasi umur pelajar dalam menuntut ilmu, hal ini malah didapatkan dikalangan pesantren yang memprioritaskan tanpa memandang umur pelajar.

Penulis sendir sedang mengayomi pendidikan formal di perguruan tinggi dan juga sebagai salah satu santri dilembaga pesantren, hal ini terlihat jelas bagaimana keadaan kedua tempat lembaga tersebut bahkan kelas satu dan dua dipesantren yang pelajar yang santrinya tamatan SD dan SMP sudah menguasai ilmu bahsa arab dan ilmu agama lainnya namun di lembaga pemerintah kita baru bisa mempelajarinya sesudah taman SMA bahkan itu hanya terbatas. Bahkan sangat beralasan dan mendasar dalam menentukan pendidikan yang kita tuntut dewasa ini.

Dalam hidup ini kita dituntut untuk memilih jalan hidup kita masing masing, memilih pendidikan moral , kwalitas pengembangan diri dan juga pendidikan spiritual yang sekaligus meningkatkan kwalitas emotional dan intelektual dan ini sangat mudah dan cepat kita dapatkan dipesantren , meskipun keadaan sekarang lembaga agama pesantren yang cenderung dipandang sebelah mata oleh dikhotomi oleh pemerintah sendiri bahkan mengesampingka masalah spiritual. Lembaga pesantren sejak dahulu telah menciptakan kader ulama dan kader bangsa yang berkwalitas sebelum pemikiran pemikiran kita dirasuki orientalist yang liberalis. Maka sepatutnya kita membanggakan dan memperjuangkan pendidikan agama menjadi pendidikan pendidikan dasar anak anak bahkan menjelang uzur bukan dikhotominya.

Mendapat pengakuan dari pemerintah, mengubah kembali paradigma yang meleset tentang pendidikan dayah yang tidak bermutu ,kalu bukan kita sendiri yang mengakuinya siapa lagi bahkan kita sudah melihat dengan mata kepala sendiri dan telah merasakan bagaimana kwalitas pendidikan pesantren. Wallahua'lam.

Muhammad Yasir Mawardy
Santriwan LPI Mudi Mesra Samalanga, Kab. Bireun, Prov. Aceh

Related

Santri 5694977782744706407

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item