umdah

Raja Pertama Dalam Sejarah Yang Merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw

Umdah.co- Raja Pertama dalam Sejarah yang Merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw adalah raja Muzaffar, pada awal abad ke 7 hijriyah. Beliau adalah seorang raja Irbil (sekarang Baghdad, Irak). Nama lengkap beliau al-Muzaffar abu Sa'id Kukuburi bin Zainuddin Ali bin Baktakin. Beliau adalah salah satu raja muslim yang sangat pemurah, pembesar yang baik hati, beliau juga telah membangan universitas al-Muzaffari di kaki gunung Qasiun.

Ibnu katsir dalam tafsirnya mengatakan: “al-Muzaffar memperingati maulid Nabi pada bulan rabi'ul awal secara besar-besaran. Pribadinya sangat derwaman, perberani, pahlawan, pandai, alim dan adil”
sejarah perayaan maulid pertama kali
Peraayaan Maulid Nabi saw

Seseorang yang pernah menghadiri maulid al-Muzaffar bercerita: “Sebanyak lima ribu kepala kambing dipanggang, sepuluh ribu ayam dan seratus kuda disembelih, seratus ribu keju dan tiga puluh ribu piring manisan disediakan. Tamu-tamu yang menghadiri maulid nabi adalah para pemuka ulama dan sufi.

Sibth Ibn al-Jauzi bercerita bahwa dalam peringatan tersebut raja al-Muzhaffar mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama dari berbagai disiplin ilmu, baik ulama fiqh, ulama hadits, ulama kalam, ulama ushul, para ahli tasawwuf dan lainnya. Sejak tiga hari sebelum hari pelaksanaan beliau telah melakukan berbagai persiapan. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para tamu yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut.

Seluruh ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh raja al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua mengapresiasi dan menganggap baik perayaan maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.

Ibn Khallikan dalam kitab Wafayat al-A’yan menceritakan bahwa al-Imam al-Hafizh Ibn Dihyah datang dari Maroko menuju Syam untuk selanjutnya menuju Irak, ketika melintasi daerah Irbil pada tahun 604 H, beliau mendapati Raja al-Muzhaffar, raja Irbil tersebut sangat besar perhatiannya terhadap perayaan Maulid Nabi. Oleh karenanya al-Hafzih Ibn Dihyah kemudian menulis sebuah buku tentang Maulid Nabi yang diberi judul “at-Tanwir Fi Maulid al-Basyir an-Nadzir”. Karya ini kemudian beliau hadiahkan kepada raja al-Muzhaffar.

Setiap tahun Beliau menganggarkan dana peringatan maulid nabi sebanyak tiga ratus ribu dinar, beliau juga menyediakan rumah penampungan tamu manca negera dari semua golongan dan latar belakang. Dana yang disediakan untuk menjamu tamu tersebut dalam setahun sebanyak seratus ribu dinar. Pada setiap tahun pula, beliau menyediakan sebanyak dua ratus ribu dinar kepada para tawanan firinji dan tiga ratus ribu dinar lagi kepada tamu dari kota mekkah dan madinah sekaligus biaya transportasi dan penyediaan air minum sepanjang perjalanan. Ini belum termasuk sedekah tersembunyi yang tidak pernah terpublikasi.

Isteri beliau yang bernama Rabiah khatun, saudari kandung dari Sulthan Salahuddin al-ayyubi, bercerita: “ suamiku seorang raja tapi pakaiannya terbuat dari kain yang kasar dan tebal yang harganya tidak sampai lima dirham. Lalu ketika saya mengkritiknya. Belia menjawab: pakaianku seharga lima dirham dan sisanya aku sedekahkan, itu lebih baik dari pada aku berpakaian mahal-mahal dan membiarkan rakyatku menderita dalam kondisi fakir miskin.

Sumber : al-hawi lilfatawa, Imam as-Suyuthi


Tgk Rahimi Zulkifli, S.sos.i

Related

maulid 8733404259028752878

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item