umdah

Menyikapi Ucapan "Selamat Natal Dan Tahun Baru" Dalam Islam

Umdah.Co- Salah satu hal yang sering menjadi topik perbincangan pada akhir tahun bagi kita umat Islam adalah tentang boleh atau tidaknya seorang Muslim mengucapkan selamat natal bagi saudara sebangsa dan setanah air yang menjalankannya. Begitu juga halnya dengan ucapan selamat tahun baru masehi. Sudah menjadi kebiasaan pula bagi yang mengucapkannya untuk mengiringi ucapan keselamatan natal tersebut dengan tahun baru. Kalaupun kita mencoba memaksakan anggapan bahwa generasi muda Muslim saat ini tidak ikut merayakan natalan, tentunya kita harus jujur pada diri sendiri untuk mengakui bahwa tidak sedikit pula di antara kita yang menjadikan tahun baru masehi sebagai suatu ritual yang “haram” dilewati begitu saja tanpa ada perayaan khusus.
selamat natal dan tahun baru bukan untuk umat islam

Permasalahannya bukan hanya sebatas pada pengucapan dan perayaannya akan tetapi perbedaan pendapat dan pandangan yang muncul dari kalangan intelektual Muslim dalam menyikapi hal ini juga menjadi suatu kontroversi yang terus bermunculan dan tidak terelakkan. Toleransi yang disandarkan kepada pluralisme keyakinan masyarakat dan suku bangsa Indonesia yang majemuk adalah salah satu alasan kuat bagi pihak yang membenarkan dan membolehkannya. Sementara kelompok yang melarangnya beranggapan bahwa hal tersebut menciderai ajaran Islam itu sendiri.

Memang, pada dasarnya perbedaan pendapat itu adalah hal yang lumrah. Namun yang sangat disayangkan adalah ketika persatuan umat Islam menjadi tumbalnya. Disadari atau tidak, kedua kelompok yang berseberangan pandangan ini adakalanya melemparkan pernyataan berbau tuduhan baik secara eksplisit maupun implisit. Di satu pihak, kelompok yang membolehkan pengucapan dan perayaan ini menganggap bahwa kelompok yang melarangnya bersikap intoleran, fanatik buta terhadap agamanya, jumud, stagnan, dan tidak berwawasan kebangsaan. Sedangkan di pihak yang lain yang melarangnya, sesat dan kafir adalah vonis paling ekstrem yang dialamatkan kepada kelompok yang membolehkannya. Barangkali, kita sebagai umat Islam akhir zaman memang lebih rela berada dalam perpecahan sesamanya hanya demi memusatkan perhatian kepada perayaan agama lain.

Beranjak dari fenomena miris tersebut, tidak ada salahnya bila kita meluangkan waktu sejenak untuk kembali menelisik pandangan para Ulama muktabar dari generasi mutaqaddimin sampai era mutaakhkhirin terkait hukum seorang Muslim mengucapkan ataupun ikut merayakan hari raya agama lain termasuk tahun baru masehi. Hal ini mengingat permasalahan ini bukanlah hal baru dan tentunya telah selesai dibahas, diteliti sekaligus dipertangungjawabkan oleh para Ulama ini.

Pengertian Ucapan
Selamat Dalam literatur fikih, ucapan selamat diistilahkan dengan tahni-ah sebagai antonim dari kata ta’ziyah (ungkapan bela sungkawa). Imam Sulaiman bin Muhammad dalam kitabnya, Hasyiyah al-Bujairimi ‘ala al-Khatib mengatakan : “Tahni-ah adalah doa yang diucapkan setelah terjadinya suatu hal yang menggembirakan. Sedangkan ta’ziyah adalah anjuran kepada seorang yang tertimpa musibah untuk bersabar dengan menyebutkan balasan pahala yang dijanjikan dan berdoa untuknya”.

Imam Jalaluddin ‘Abd al-Rahman bin Abubakar al-Suyuthi dalam kitabnya, al-Hawi li al-Fatawi, mengungkapkan bahwa ucapan selamat biasanya diucapkan ketika seorang Muslim bersuka cita ataupun menerima kesenangan yang dibenarkan dalam agama seperti hari raya idul fitri, kelahiran anak, pernikahan dan lainnya. Ungkapan suka cita ini bisa saja karena menerima kenikmatan ataupun terhindar dari suatu malapetaka, seperti dikemukakan oleh Imam Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani dalam kitabnya, Juz fi al-Tahni-ah bi al-A’yad : “Keumuman ucapan selamat terhadap kenikmatan yang terjadi atau terhindar dari malapetaka menjadi suatu dalil bagi para jumhur ‘Ulama untuk pelaksanaan sujud syukur”.

Imam Ahmad bin Hamzah bin Syihab al-Din al-Ramli dalam kitabnya, Nihayat al-Muhtaj, menuliskan bahwa ucapan tahni-ah (selamat) kepada sesama Muslim bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan sekaligus menampakkan kegembiraan.

Pandangan Ulama
Lantas, bagaimana dengan ucapan tahni-ah (selamat) kepada non-Muslim? Menurut hemat penulis, ada dua rincian yang perlu diperhatikan terkait hal ini. Pertama, terkait dengan masalah keduniawian, seperti pernikahan, kelahiran anak dan lainnya. Kedua, memberikan ucapan selamat terkait dengan syiar agama.

Para Ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya ucapan keselamatan kepada non-Muslim terkait perkara umum ataupun masalah keduniawian sebagaimana telah dinukilkan oleh Imam ‘Ali bin Sulaiman al-Hanbali dalam kitabnya, al-Inshaf.

Sementara itu, terkait ucapan keselamatan kepada non-Muslim yang mempunyai kaitan dengan syiar agama, Imam Muhammad bin Muhammad al-Khatib al-Syarbaini berkomentar dalam kitabnya, al-Mughni al-Muhtaj : “Dihukumi ta`zir bagi mereka yang berpartisipasi dengan non-Muslim pada hari raya mereka… dan orang yang mengucapkan selamat kepadanya (kafir dzimmi, yaitu kafir yang tunduk pada pemeritahan Islam dan membayar jizyah) di hari rayanya”.

Imam al-Bulqini ketika ditanya mengenai seorang Muslim yang mengucapkan selamat hari raya kepada non-Muslim di hari raya mereka, apakah ia menjadi kufur atau tidak, beliau menjawab :”Jika perkataan tersebut dikatakan oleh seorang Muslim kepada kafir dzimmi dengan niat mengagungkan agama atau hari raya mereka, maka ia menjadi kufur. Sedangkan jika tidak bermaksud demikian dan perkataan itu hanya ucapan lisan belaka, maka ia tidak menjadi kufur dengan perkataan yang dikatakan tanpa maksud”.

Bila kita memperhatikan uraian tersebut, para Ulama ini lebih cenderung menghukumi haram kepada seorang Muslim yang mengucapkan tahni-ah untuk hari raya agama lain bahkan ia bisa menjadi kufur bila perbuatan tersebut dilakukan dengan rasa senang sekaligus bertujuan meniru non-Muslim dalam rangka ikut mensyiarkan kekufuran mereka. Penjelasan serupa juga diungkapkan oleh Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami dalam kitabnya, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, Imam Sayyid ‘Abd al-Rahman bin Muhammad Ba’alawi dalam kitabnya, Bughyat al-Mustarsyidin, Imam ‘Abd al-Hamid al-Syarwani dalam kitabnya, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala Tuhfat al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj dan lainnya. Bahkan Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitabnya al-Amru bi al-Ittiba’ wa al-Nahyu ‘an al-Ibtida’ menguraikannya secara khusus dengan bahasa yang tegas dan gamblang sebagai salah satu bentuk kemungkaran.

Adapun terkait tahun baru masehi, nasehat dan anjuran Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya` al-‘Ulum al-Din tentang larangan menyerupai perkataan dan kebiasaan orang-orang fasik sepertinya bisa menjadi patokan umat Islam agar tidak mengikuti perkataan dan kebiasaan non-Muslim dalam merayakan tahun baru masehi. Cukuplah tahun baru hijriah sebagai satu-satunya tahun baru yang diakui oleh ajaran agama kita. Berdasarkan pertimbangan dari uraian para Ulama tersebut, sudah sepantasnya ucapan selamat natal dan tahun baru masehi dihukumi haram dan harus dihindari oleh umat Islam. Walaupun demikian, kita tidak boleh sembarangan menghukumi sesat dan kafir terhadap pihak yang membolehkannya. Kebolehan ini tentunya juga berdasarkan dalil yang layak untuk dipertimbangkan. Karenanya, forum bahtsul masa-il yang selama ini hanya berkembang di pesantren sudah selayaknya diterapkan dalam skala yang lebih luas agar umat Islam kembali terbiasa dengan persatuan dan keutuhan sesamanya. Wallahua’lam bishshawab.

Oleh : Baidarus H. Zulkarnain, Mahasantri Ma’had ‘Aly Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng, Ulee Glee, Pidie Jaya. Email : ibnujunaidalhanafi@gmail.com.

Related

Opini 6905276515000292099

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item