umdah

Menjadi Penjahat

UMDAH.CO-- "Mengapa kamu melakukan hal bodoh dan memalukan itu?" Itu adalah pertanyaan yang aku lontarkan kepada salah satu sahabatku tidak lama setelah ia ditangkap polisi. Apakah engkau tahu apa jawabannya? Jawabannya tidak terbayangkan oleh siapapun, aku pun tidak saat itu.

"Aku ingin menjadi buronan polisi, sudah menjadi cita-citaku semenjak kecil untuk diburu oleh mereka" Itulah jawabannya. Aku belum pernah mendengar ada jawaban bodoh seperti itu sebelumnya. Membayangkannya saja tidak, apalagi mendengarnya langsung.

"Mengapa kamu ingin diburu mereka, apa engkau gila?" Tanyaku penasaran.
"Karena aku suka", jawabnya singkat.

"Karena aku suka, jawaban macam apa itu?" tanyaku sengit. Dia sahabatku semenjak kecil, tentu saja aku peduli padanya. Tapi jawabannya benar-benar menjengkelkan.

"Engkau tidak akan mengerti"
"Kalau aku tidak mengerti, apakah yang mengerti itu kau? Sejak kapan orang yang mendekam dalam jeruji besi lebih pintar dari orang di luar?"

Ia tidak menjawab.

"Seharusnya engkau tidak berada di sini. Ini bukan tempatmu" Aku tahu nasehat ini tidak berguna baginya. Telah banyak orang yang menasehatinya, bahkan yang lebih hebat dari aku, tapi ia menganggapnya angin lalu.

"Pernah kah engkau melihat seseorang yang memanjat tebing yang tinggi, yang seandainya ia jatuh ia akan langsung mati?" Tiba-tiba ia menjawab.

"Pernah" Jawabku singkat. Siapapun pernah melihat hal itu.
"Menurutmu, apakah mereka bodoh? Apakah tebing-tebing curam itu tempat yang pantas bagi mereka?" Tanyanya lagi.

"Itu benar-benar hal yang berbeda. Engkau tidak bisa menyamakan dirimu dengan mereka". Aku tahu apa maksudnya bertanya seperti itu.

"Apanya yang berbeda?"

"Mereka tidak akan ditangkap polisi"

"Ditangkap polisi atau tidak, itu juga hal yang berbeda" Ia menjawab santai.

"Apakah engkau sangat mencintai istrimu?" Tanyanya lagi.

"Tentu saja, kenapa aku kawin dengannya kalau aku tidak mencintainya"

"Kalau tiba-tiba polisi melarangmu untuk mencintainya, engkau bagaimana?"

"Mana ada polisi melarang orang mencintai istrinya. Sejak kapan itu melanggar hukum?" Jawabku penasaran.

"Aku tidak bertanya ada atau tidak. Aku hanya ingin mendengar jawabanmu"

"Tentu saja aku tidak akan mempedulikannya. Aku mencintainya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Entah polisi atau neneknya melarang, aku tidak peduli" Jawabku dengan penuh keyakinan. Seolah-olah ketika menjawab itu, aku merasa benar-benar telah menjadi lelaki sejati. Lelaki sejati bukanlah orang yang takut dengan segala bahaya.

"Hhhmmm.... Pekerjaan itu adalah istriku" Jawabnya tiba-tiba.
"Aku tidak bisa meninggalkannya walau pisau diletakkan di leherku. Aku mencintainya melebihi engkau mencitai istrimu. Itu adalah jiwaku dan kehidupanku"


Mendengar perkataannya, jiwaku kelu. Tiba-tiba aku menyadari, ia telah berubah. Ia telah tersesat terlalu jauh. Dulu ia tidak seperti itu. Ia seorang yang periang, orang yang menatap kehidupan dengan penuh warna, tanpa beban dan kosong. Kini pandangannya telah kosong, tanpa perasaan, tidak mirip lagi manusia. Entah siapa yang telah merenggut jiwanya, sehingga jiwa itu mati kekeringan. Entah siapa yang telah menanamkan kesesatan itu, sehingga pohon kebaikan tidak ada lagi tempat di hatinya.

Begitulah aku berpikir tentangnya.

"Menurutmu, apakah aku telah berubah?" Tanyanya seperti dapat membaca isi hatiku.

"Apakah engkau merasa dirimu masih seperti yang dulu?" Aku balik bertanya.

"Sudah kubilang, aku ingin melakukan ini semenjak kecil. Sekarang aku melakukannya, itu bukan berarti aku telah berubah."

"Tapi dulu engkau tidak dipenjara, polisi tidak akan menangkapmu walau engkau ingin"

"Kenapa dengan penjara. Apa bedanya penjara atau bukan. Banyak manusia hidup dalam rumah besar, tetapi ia bagai di neraka"

Aku mengakui apa yang dikatakannya benar. Rumah baru berarti istana yang sebenarnya ketika semua unsur di dalamnya mendukung dan indah. Bila tidak, rumah malah tidak ubahnya neraka yang membuatmu tidak betah berlama-lama di dalamnya. Bahkan engkau lebih baik tidak punya rumah.

"Menurutmu, siapa lebih baik antara kami dengan para penegak hukum itu?"
"Tentu saja mereka lebih baik karena mereka menegakkan hukum sedangkan engkau menghancurkannya."
"Apakah engkau tahu kenapa ada banyak orang seperti kami sekarang ini?" Tanyanya.
 "Engkau tidak akan tahu. Sebenarnya kami lah yang mempekerjakan mereka. Bukan pemerintah. Kami memberikan lebih banyak bagi mereka."

"Sebenarnya kami malah lebih baik dari mereka. Karena kami melakukannya dengan terang-terangan dan bangga, tidak menjadi munafik seperti mereka. Memakai baju hukum tetapi menginjaknya dalam gelap." Lagi-lagi aku harus mengakui apa yang dikatakannya benar.

"Tapi engkau tidak harus membandingkan yang jelek dengan yang jelek. Engkau harus membandingkannya dengan yang baik"

"Yang baik? Siapakah di dunia ini yang benar-benar baik? Mereka hanya tidak punya kesempatan seperti yang kami punya. Bila ada, mereka lebih rusak dari kami. Dalam terang, mereka layaknya domba yang khusyu', tapi dalam gelap mereka lebih kelaparan dan kejam dari serigala. Engkau tidak pernah bermain dalam gelap, tentu saja engkau tidak tahu. Yang engkau lihat adalah ketika mereka telah memakai jubah sutra dan seragam suci"

"Iya, manusia seperti itu memang ada. Tapi orang yang benar-benar baik juga banyak. Engkau harus melihat kepada mereka" Aku tidak bisa sepenuhnya setuju dengannya.

"Iya memang ada. Tapi sangat sedikit... Seperti jarum dalam lautan. Aku tidak bermaksud menafikan, aku hanya ingin mengingatkan bahwa tidak ada gunanya membandingkan kami dengan orang kebanyakan. karena pada prinsipnya kita tidak jauh berbeda. Cuma mereka lebih banyak sehingga mereka dapat melabeli kami dengan apa saja. Sehingga kami lah tokoh hitam, dan mereka kaum putih"

"Iya aku tahu"
"Engkau tahu? Apa yang engkau tahu?"

"Aku tahu tidak ada orang yang dapat menyadarkanmu. Engkau telah pergi terlalu jauh."

"Bila engkau telah merasa benar dengan apa yang engkau lakukan, siapakah yang dapat merubah prinsipmu. Tidak ada. Ada banyak orang yang berbuat salah, tapi tidak ada yang merasa dirinya benar. Itu masih ada harapan"

"Aku tidak merasa benar, tapi hanya berharap supaya kalian adil dalam melihat kami"

Aku tahu ada sebagian omongannya benar, dan banyak diantara mereka berprinsip sama sepertinya. Tapi bagiku, menjual narkoba tidak dapat dibenarkan. Karena itu bukan soal gagah-gagahan atau tidak, itu bukan soal menjadi lelaki atau bukan. Dan lebih-lebih tidak ada urusannya dengan kesukaan atau hobby. Ada banyak hobby yang dapat dilakukan di dunia ini, tidak mesti merusak orang lain dengannya. Lebih-lebih tidak harus membenarkannya. Hanya karena banyak orang yang melakukan kejahatan, bukan berarti kejahatan sudah dapat dibenarkan. Bahkan andai kata kejahatan sudah menjamur dan mewabah ke segenap lini kehidupan, ia tetap kejahatan.


Penulis:

Muhammad al-Qurafi




Related

Kisah 8233110248853501413

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item