umdah

Kisah Taubatnya Seorang Perempuan, Ibu Para Nabi Bani Israil

Umdah.co- Kisah ini dihikayahkan oleh Abdullah bin Mas’ud dari Salman al-Farisi, berikut kisah lengkapnya. Pada zaman israiliyat, hiduplah seorang wanita kaya yang berprofesi sebagai pelacur. Dia merupakan wanita yang sangat cantik sehingga menjadikan kecantikannya sebagai fitnah bagi laki-laki. Pintu rumahnya selalu dalam keadaan terbuka, setiap hari dia itu duduk di atas ranjang yang letaknya setentang dengan pintu rumah. Setiap ada yang lewat, selalu matanya tertuju kepada wanita itu, wajahnya yang elok selalu mampu memikat setiap hati para laki-laki.

kisah pelacur taubat ibu para nabi

Setiap laki-laki yang ingin berhubungan intim dengannya, harus membayar sekurang-kurangnya sepuluh dinar. Pada suatu hari, lewatlah seseorang yang terkenal keshalihannya, dengan tidak sengaja matanya melihat wanita pelacur itu. Memberontaklah nafsu si abid ingin bersetubuh dengan wanita tersebut, laki-laki itu kemudian berdoa kepada Allah agar dihilangkan di dalam hatinya keinginan itu. Rupanya keadaan seperti itu terus berlanjut dan dia merasa tidak mampu lagi mengendalikan nafsunya. Laki-laki tersebut tidak punya uang, dan demi memperoleh uang sepuluh dinar, dia rela menjual pakaiannya sebagai syarat untuk bisa tidur dengan si pelacur itu.

Setelah memperoleh uang sepuluh dinar, laki-laki abid itu kemudian datang menemui si pelacur dan diserahkanlah dinar yang dibawanya kepada asisten si pelacur serta menyepakati perjanjian antara keduanya.

Si Wanita yang telah mempercantik dirinya duduk atas ranjang dalam kamar, tak lama kemudian datanglah si abid memasuki kamar. Keduanya duduk bersama-sama. Di saat laki-laki abid itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh perempuan itu, saat itulah Allah menghalangi si abid karena keberkahan ibadah yang telah dirintisnya, tergoreslah dalam hatinya, ”Sekarang Allah melihatku dari atas arasy dalam keadaan begini, berbuat haram dan semua amalanku telah dihapus.” Setelah itu ketakutannya semakin menjadi-jadi, jiwanya gemetar dan warna kulitnya berubah. Melihat gelagat si abid seperti itu, perempuan itu bertanya: “Apa yang menimpa kamu wahai tuan?
Abid: ”Aku takut kepada Allah, Tuhanku, maka izinkanlah aku keluar dari rumah ini”.
Wanita: ”Kamu aneh, banyak sekali laki-laki yang menginginkan tubuhku, kenapa kamu lain?
Abid: “Karena aku takut kepada Allah. Harta yang telah aku berikan kepada asistenmu halal bagimu, maka izinkanlah aku keluar.”
Wanita: “Walah-walah, seolah-olah kamu tidak pernah berbuat semacam ini?”
Abid: “Benar katamu, memang aku tidak pernah berzina.”
Wanita: “Siapa namamu dan dimana tempat tinggalmu?”

Laki-laki tadi memberi tahu nama dan tempat tinggalnya. Wanita itu pun memberikan izin. Abid keluar dari rumah itu dan menangis histeris, ia berteriak dengan nada “Celakalah aku, celakalah aku”. Melihat kejadian itu, jatuhlah ketakutan dalam hati si pelacur itu karena melihat si abid tadi. Tergoreslah dalam hatinya: “Laki-laki ini baru pertama kali berbuat dosa sudah ketakutan setengah mati, sedangkan aku telah berbuat dosa semenjak dahulu dan sudah bertahun-tahun. Tuhan yang ia takuti itu tuhanku juga. Seharusnya ketakutanku lebih berat dari ketakutannya.”

Kemudian sadarlah perempuan tadi, ia bertaubat kepada Allah, pintu rumahnya dikunci, tidak seperti dahulu lagi. Ia selalu memakai pakaian yang usang dan beribadah kepada Allah. Dalam sela-sela ibadahnya kepada Allah, ia berkata pada dirinya “Seandainya aku bisa menemui si abid, mudah-mudahan ia menikahi aku, dan akan tinggal bersamanya, belajar agama darinya dan membantuku untuk beribadah kepada Allah".

Kemudian bersiap-siaplah wanita dengan membawa semua harta yang dimilikinya ke desa untuk menemui si abid. Dia bertanya kepada masyarakat tentang keberadaan si abid tersebut. Setelah diberitahukan kepada si abid itu bahwa ada seorang wanita yang menanyakan keberadaannya, keluarlah dia untuk menemui perempuan tadi. Manakala dia melihat wanita itu, teringat olehnya kejadian di masa lalu. Dia berteriak-teriak ketakutan. Dengan izin Allah, meninggallah ia dalam ketakutan dan pulang menghadap-Nya.

Wanita itu bersedih, dalam keadaan gundah, putus asa, ia berkata pada dirinya: “Kedatanganku ke sini karena dia, sekarang ia telah meninggal”. Perempuan tadi bertanya kepada penduduk desa tersebut mengenai saudara-saudaranya.

Ternyata si abid tersebut mempunyai seorang saudara laki-laki yang ingin menikah dengan seorang wanita tetapi tidak memungkinkan karena statusnya sebagai orang miskin dan tidak memiliki apa-apa. “Tidak mengapa, saya rela, dan saya punya harta yang akan mencukupinya”. Jawab perempuan tadi setelah mengetahui kondisi laki-laki saudara si abid tadi. Dengan izin Allah, datanglah saudara si abid menikahi wanita itu, hasil pernikahan mereka lahir anak laki-laki yang semuanya menjadi nabi kaum bani Israil. Ini karena keberkahan sedekah, taat, ibadah dan niat baik dari perempuan tadi. Wallahua’lam.

Refensi:kitab tanqihul qauli hal, 38-39.

Tgk. Rahimi Zulkifli S.sos.i

Related

Sejarah 8843353282921986418

Posting Komentar Default Comments

  1. http://detik206.blogspot.com/2017/06/pulangkan-habib-rizieq-dari-arab-saudi.html


    http://detik206.blogspot.com/2017/06/terungkap-begini-kondisi-indonesia.html


    http://marimenujudomino206.blogspot.com/2017/06/pak-harto-dan-karier-militer-yang.html


    http://beritadomino2o6.blogspot.com/2017/06/dituduh-netizen-jualan-anjing-panggang.html


    HALLO TEMAN-TEMAN DAFTARKAN SEGERA DIDOMINO206.COM JUDI ONLINE TEPERCAYA & AMAN 100% !

    SANGAT MUDAH MERAIH KEMENANGAN TUNGGU APALAGI AYO BURUAN DAFTARKAN:)

    UNTUK PIN BBM KAMI : 2BE3D683

    BalasHapus

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item