umdah

Kenapa Doa Kita Tidak Dikabulkan?

UMDAH.CO-- Manusia selama masih disebut sebagai manusia, yakni makhluk Allah, ia tidak terlepas dari pertolongan Allah yang maha kuasa, meskipun keperluan dunianya sudah mencukupi. Agar permohonan kita dikabulkan maka dalam berdoa harus disertai adab dan sopan santunnya.


Sebagaimana kalam hikmah Ibnu Attailah;
"Janganlah engkau tuntut Tuhanmu dengan sebab lambat berhasilnya permohonanmu, tetapi tuntutlah dirimu dengan sebab terlambatnya sopan santunmu."

Maksud dari kalam hikmah tersebut; apabila kita mendoakan sesuatu kepada Allah adakala berupa ilmu atau kekayaan, dan doa kita belum dijawab oleh Allah, maka hendaklah kita berbaik sangka kepadaNya. Kita tidak boleh mendebat Allah, apalagi sampai jengkel kepadaNya mengapa doa kita belum juga dikabulkan. Karena berprasangka tidak baik kepada Allah dan ingin cepat-cepat dikabulkan itu adalah hal yang tidak pantas bagi kita selaku hambaNya. Allah itu maha berbuat dengan sekehendaknya, dan Dia tidak boleh ditanyakan kenapa Dia berbuat dan berkehendak begitu. Yang harus kita selidiki adalah diri kita sendiri, apa penyebab doa kita tidak dikabulkan, mungkin kita kurang sopan dalam berdoa, bahkan tidak ada sama sekali. Oleh sebab itu hendaklah kita selidiki dimana kekurangan diri kita sehingga doa kita tidak terkabulkan.

Gambaran kekurangan kita bisa jadi seperti berikut;

 1. Mungkin kita berdoa dengan maksud supaya doa kita diperkenankan olehh Allah. Jadi kita berdoa karena sesuatu maksud dan tujuan. Doa yang begini menandakan kurangnya adab kita dalam berdoa kepada Alla s.w.t., sebab hal yang demikian dapat merusakkan kesempurnaan ubudiyah kita kepadaNya. Akan tetapi sebaiknya kita berdoa kepada Allah bukanlah karena suatu maksud dan tujuan. Bahkan adalah karena didorong oleh rasa kehambaan kita kepadaNya, dan karena melakasanakan hukum ketuhanan, dimana selaku hambaNya kita harus menyampaikan segala sesuatu kepadaNya, tanpa maksud apa-apa, sekedar hanya menyampaikan dan melaporkan segala sesuatu yang terjadi atas diri kita.

Kita tidak perlu meminta kepadaNya supaya Allah memperkenankan doa kita, meskipun kita perlu meminta sesuatu kepadaNya. Kita hanyalah menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Allah lah yang lebih mengetahui atas segala sesuatu, baiknya atau tidak baiknya, dan tiada kehendakNya yang tidak baik, tidak ada perbuatanNya yang tidak baik, semuanya mempunyai hikmah tersendiri.

 2. Hendaklah dalam i’tikad kita, bahwa belum tampak makbulnya doa kita bukan berarti doa kita tidak mustajab, tidak. Sekali-kali tidak! Sebab mustajab suatu doa adakala bisa kita lihat langsung, tetapi disamping itu boleh jadi Allah memperkenankannya tanpa kita sadari. Misalnya apa yang kita mohonkan menurut Allah tidak baik atau kurang baik bagi kita, sehingga Allah menghendaki yang lebih baik dari itu. Oleh sebab itulah permintaan kita  tidak berhasil dan tidak makbul, karena ada hal lain yang lebih baik yang akan diberikanNya.

Misalnya kita memohon kepada Allah agar kita diberi kekayaan dan harta yang banyak lalu Allah tidak memperkenankan permohanan kita itu, tetapi Dia memberikan kepada kita kesehatan yang sempurna dan keberkahan dalam hidup. Ini tentu lebih baik bagi kita dari pada kekayaan tapi tidak berkah, bisa jadi kita sakit sakitan sehingga semua harta tidak sempat kita pergunakan, habis untuk berobat saja.

Atau kelihatannya doa kita tidak mustajab padahal sebenarnya makbul dan mustajab. Cuma waktu berhasilnya doa kita itu belum sampai, karna belum cocok waktunya menurut Allah. Barang kali kalau diberi sekarang barang itu akan cepat hilangnya karna dicuri atau sebab yang lain, maka Allah akan berikan kepada kita nikmatNya pada waktu yang tepat.

 3. Kita merasakan seoloh-olah kita berhak menentukan apa yang kita mohonkan kepada Allah s.w.t. Kita mengakui, bahwa yang mentukan segala sesuatu adalah Allah bukan kita, dan kita tidak boleh mencapuri urusanNya. Apabila kita mencapuri urusan Allah berarti kita menghinaNya. Padahal kita harus merendah diri sebagai makhluk yang lemah di hadapanNya, sebab yang maha berkehendak dan maha kuasa atas segala sesuatu adalah Allah s.w.t. Serahkan saja semua kejadian-kejadian yang terjadi kepada Allah, sebab segala sesuatu adalah menurut kadha-kadarNya.

Dalam hal ini mari kita perhatikan sebuah contoh supaya kita lebih memahami masalah ini demi untuk bertambahnya iman dan keyakinan kita Allah s.w.t. Pada suatu masa, suatu kejadian terjadi pada wali Allah bernama Tharik Ash-sadik. Beliau digelar dengan As-sadik yang berarti "yang benar" karena kejadian yang benar pernah terjadi padanya. Pada suatu hari ia terjatuh dalam sumur kosong, sumur itu sangat dalam sehingga beliau tidak berdaya untuk melepaskan diri dari sumur tersebut. Tidak lama kemudian lalulah diatas sumur serombongan orang yang ingin menunaikan ibadah haji ke Makkah. Waktu sampai di sumur tersebut mareka berkata; "Kita harus menimbun sumur ini supaya orang tidak jatuh ke dalamnya".

Tharik mendengar percakapan mareka, lalu berkata dalam hatinya; "Jika aku orang yang betul-betul percaya kepada Allah aku tidak meminta bantuan selain kepadaNya, sebab itu aku harus diam.’’ Maka diamlah dia. Jamaah tersebut lantas menimbun sumur itu. Setelah menimbun mareka terus pergi, maka tinggallah Tharik dalam gelap gulita tetapi anehnya beliau masih bisa bernafas.

Tiba-tiba beliau melihat seekor ular besar di samping itu muncul pula dua buah lampu yang besinar sehingga teranglah sumur tersebut. Ular itu berjalan ke arahnya lantas Tharik berkata dalam hatinya; "Jika aku benar pada keyakinanku dan aku bukan orang yang berpura-pura, maka aku akan selamat".

Pada ketika ular itu sampai di dekatnya, sangkanya ular itu ingin mematuknya, padahal kenyataannya bukan demikian. Ular itu rupanya memalingkan kepalanya untuk naik ke atas sumur, Tharikpun terangkat ke atas sumur dengan ekor ular yang dililitkan di lehernya dan dua kakinya, laksana sang ibu yang merangkul kaki dan badan anaknya. Kemudian ular itupun menyusur ke atas sumur dan mengangkat timbunan yang menutupi sumur itu, Tharik pun terangkat ke atas dengan perantaraan ular tersebu.

Setelah beliau sampai ke atas beliau mendengar suara yang beliau sendiri tidak tahu darimana datangnya. Suara itu mengatakan; "Ini adalah kasih sayang Tuhanmu dimana Dia telah melepaskanmu dari musuhmu dengan musuhmu."

Adapun maksudnya adalah; Allah telah melepaskan Tharik dari patukan ular berbisa yang dapat menimbulkan kematian dan dengan parantaraan musuhnya pula ia selamat dari sumur yang dalam.

Ini sewatu bukti kepada kita yang bahwa apabila kita betul-betul yakin dan beradap kepada Allah dengan arti yang luas maka Allah akan menyelamatkan kita.
 
 Wabillahi taufik walhidayah, semoga Allah menjadikan kita sebagian dari orang-orang yang di istijabahkan doanya. Amiiin yaa Rabbal a’lamin.

Related

hikmah 129656254700990177

Posting Komentar Default Comments

  1. Hindari sesuatu yang haram yang masuk pada diri kita juga, mencari rizki dengan cara yang halal.
    Bagus atikelnya,

    oia salam kenal
    Al Quran Readpen PQ15

    BalasHapus

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item