umdah

Aswaja Ditengah-tengah Wahabi dan Liberalis

Umdah-  Islam adalah kombinasi antara dalil dan akal, dalil berfungsi menyatakan hukum, sedangkan akal berfungsi melogikakan hukum tersebut. Dalil itu datang dari Allah atapun Nabi. Allah sebagai tuhan tentu saja memiliki ilmu yang sangat luas dan tinggi. Tidak ada satupun yang sanggub menandingannya, karena jika tidak seperti demikian, tentu saja Ia bukan tuhan, maka suatu hal yang wajar jika banyak sekali pernyataan-Nya yang tidak sanggub dicerna/dilogikakan.
aswaja ditengah liberalis dan wahabi 2

Sebagai perbandingan hal yang demikian bisa ditemukan dalam keseharian kita saat berinteriaksi dengan orang-orang yang lebih cerdas. Dalam kondisi demikian apakah kita serta merta mengatakan bahwa pernyataannya salah, tentu saja tidak. Orang yang jujur akan mengatakan, saya tidak mengerti masalah tersebut tetapi saya percaya karena bersumber dari yang lebih cerdas dari saya.

Itu masih sesama manusia, apalagi jika sudah berhubungan dengan Allah. Apakah di saat hukum tersebut tidak dapat dirasiokan harus di tolak dan tidak terima, dimanakah letak keimanan orang tersebut dan bukankah ini sebuah kesombongan dan takabbur. Orang beriman tentu saja tidak demikian dan akan tetap menerimanya, mereka menyadari ilmunya terbatas dan datang dari Allah, mereka mengatakan dalam hati “ saya percaya dan beriman dengannya dan Allah yang maha mengetahui”.

Sebagai mukmin yang taat seseorang harus menyadari tentang ini sehingga tidak terjebak kepada pemahaman liberal/sekuler yang menuhankan akal, dan sadar bahwa kapasitas akal sebatas merasiokan hukum tidak untuk memberi peryataan (isbat) tentang hukum, istilah lain dalil sebagai penentu, akal sebagai pendukung.

Namun demikian islam ini tidak kaku dan sempit, sehingga setiap masalah harus memiliki dalil secara khusus, karena kalau demikian adanya sungguh kita membutuhkan alquran setebal gunung dan Nabi pun tidak cukup berumur 63 tahun.

Alquran sebagai mukjizat mampu mengungkapkannya dengan bahasa yang singkat namun mempunyai arti yang luas dan bisa menjawab berbagai persoaalan, hal ini juga berlaku kepada hadis. 

Maka dengan sebab demikian, banyak sekali permasalahan yang diungkapkan dengan bahasa umum dan tersirat. Disinilah fungsi akal yang merincikan setiap permasalahan yang termasuk di bawah dalil umum tersebut. Tidak sembarangan orang yang mampu naik kepada taraf demikian tetapi harus melalui akal yang terbimbing dan yang sudah sangat mengusai alquran dan hadis, kalau tidak demikian bisa saja ia salah dan sesat.

Pemahaman yang demikian masih dibenarkan dalam agama dan tidak termasuk kepada perkara bid'ah. Berbeda halnya dengan wahabi yang memahami dalil dengan makna dhahiriyahnya saja. Imbas dri itu, banyak sekali manusia menurut mereka yang dianggap sesat dan bid'ah padahal mereka sendiri sedang melakukan perkara bid'ah besar tanpa menyadarinya.

Logika mereka kaku dan sempit sehingga setiap permasahan harus memiliki dalil yang khusus dan menghukum sesat kepada permasalahan yang dalilnya umum. Anehnya, di sisi lain mereka juga menggunakan dalil umum jika menghukum sesat kepada orang lain.

Disini dapat dipahami bahwa pemiran mereka rancu. Terkadang iya dan terkadang tidak padahal masih pada dalil yang sama, menafsirkan dalil sesuai dengan keinginannya semata, maka tidak jarang ditemukan pendapat mereka pertentangan antara satu sama lain.

Disini dengan jelas bahwa menggunakan logika semata adalah kesalahan dan sesat seperti yang diyakini oleh kaum liberal dan sekuler. Mereka menolak akal secara mutlak dan tidak berpedoman pada dalil yang khusus semata, mereka juga salah dan sama sesatnya seperti kaum wahabi. Pemahaman yang benar adalah yang mampu mengkombinasikan antara dalil dan akal sesuai dengan fungsinya seperti yang telah dijelaskan diatas sehingga membagi hukum kepada dua macam, taabbudy (benar karena faktor iman) dan muaallal( benar karena faktor iman dan rasional).

Pemahaman ini disebut dengan manhajul wasathiyah, pemahaman yang lurus tidak bengkok ke kiri dengan menolak akal sepenuhnya dan tidak bengkok ke kanan dengan menerima akal sepenuhnya tetapi pada tengah-tengah dan Nabi saw pun memujinya:

خير الامور اوسطها

 Yang paling paling baik adalah pertengahan. Dan karena inilah sehingga pemahaman ini disebut dengan ahlussunnah wal jamaah. Wallahua’lam.

Tgk. Sulaiman Hasan Az-zabidy

Related

Opini 3132627866508001686

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item