umdah

4 Cara Menjahui Kejahatan

Umdah-Memproteksi diri kita dari berbuat jahat dan melangkahi hukum Allah adalah suatu yang patut di perhatikan dalam ranah kehidupan kita sebagai makhluk yang mempunyai hawa nafsu dan keinginan hati, maka dari itu ada 4 konsep dalam membentengi diri supaya tidak terjerumus dalam kedurhakaan kepada sang khalik.

1. Taubat, kembali kepada Allah. Tindakan melawan hukum, melakukan kejahatan dan dosa adalah sikap yang menggelincirkan manusia dari shiratal mustaqim menuju lembah kehinaan. Taubat adalah salah satu upaya dan proses tambah untuk mengembalikan kita kepada jalan yang lurus, sekaligus membersihkan dari kotoran dan noda. Taubat adalah pekerjaan harian bukan tahunan karena praktek dosa dilakukan setiap hari, diketahui atau tidak, disengaja atau tidak. Oleh karena itu kewajiban kita adalah selalu membersihkan diri dan memantapkan diri senantiasa berada di jalan shirotol mustaqim. Allah & Rasul-Nya memerintahkan kembali kepada Allah dengan bersegera, cepat-cepat dan jangan ditunda-tunda.
Firman Allah :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133).

عَجِّلُوا بِالتَّوْبَةِ قَبْلَ الْمَوْتِ
"Bersegeralah kalian bertaubat sebelum datangnya kematian (Al-Hadits) Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan menyucikan diri. Rasulullah Saw yang telah diampuni mencontohkan bertaubat setiap hari sebanyak lebih dari 70x. Orang yang bahagia dalam perjalanan hidup sampai di alam yang abadi nanti adalah mereka yang senantiasa membersihkan diri dan kembali kepada Allah dalam keadaan fitrah (suci).

2. Muhasabah. Introspeksi atas amal yang telah berlalu. Muhasabah begitu penting dilakukan untuk mengetahui situasi kondisi dan kemampuan kita dalam menjalani kehidupan untuk mengabdi kepada Allah Swt. Proses muhasabah dilakukan dengan hati yang bersih sehingga obyektif dalam menghitung dan mengevaluasi amal yang pernah dilakukan. Setelah mengetahui apa yang telah dilakukan itu barulah diupayakan perbaikan demi perbaikan. Perbaikan inilah yang merupakan hasil dari muhasabah.

Sebagimana sabda Rasulullah SAW bahwa beliau berkata, "Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’), maka dari itu muhasabah mempunyai urgensi dalam menjalani kebaktian kepada Allah SWT.

3. Mujahadah. Artinya perjuangan, usaha yang sungguh-sungguh dan pengorbanan dalam rangka menekan laju hawa nafsu. Sebab dalam diri kita ada potensi keburukan (kejahatan), yakni hawa nafsu. Ketika nafsu dibiarkan merajalela maka akan membungkam akal sehat dan hati. Saat itu terjadi manusia akan melakukan apa saja di luar pertimbangan. Akal sehat dan hati tidak mampu bergerak saat hawa nafsu menguasainya. Memanage hawa nafsu agar diatur dengan baik sesuai dengan kebutuhannya adalah mujahadah yang dilakukan setiap saat.

Dalam hadits disebutkan:
أَعْــدَى عَــدُوِّكَ نـَفْـسُـكَ الَّــتِي بـَيْـنَ جَـنْـبَـيْـكَ )أخرجه: الطبراني رواه البيهقي
" Musuh besarmu adalah nafsu yang ada di antara kedua lambungmu".

Nafsu tidak mengenal waktu dan tempat. Nafsu tidak mengenal di dalam atau di luar masjid. Dia akan terus bergejolak, semakin ingin meningkatkan ibadah ajakan nafsu semakin lembut. Syekh Ibnu ’Athaillah menyebutkan dalam kitabnya Al-Hikam, Ajakan hawa nafsu bisa mengajak kepada ketaatan secara lahir. Al Hikam. Pada akhirnya bentuk ketaatan tersebut bersifat semu, sedangkan batinnya diacak-acak dan dihancurkan oleh hawa nafsu. Orientasi ketaatannya bukan kepada Allah melainkan untuk memenuhi hawa nafsunya. Inilah perjuangan melawan hawa nafsu yang memiliki karakteristik selalu menyukai hal-hal yang berlebih-lebihan di luar akal sehat (alam realitas). Selama keimanan kuat dan akal sehat berjalan maka selama itu pula kita mampu mengendalikan laju hawa nafsu.

4. Muraqabah. Proses jiwa yang merasa selalu diawasi Allah Swt. Tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi Tatapan, Pendengaran, Pengawasan Allah hingga kepada hati yang terdalam. Jibril As mengajarkan tentang Ihsan. Yakni beribadah (mengabdi) kepada Allah seakan-akan melihatNya, karena saking yakinnya. Apa yang terjadi dalam fenomena kehidupan bagi mereka yang belajar ihsan akan merasakan bahwa di balik itu semua ada Kekuasaan Allah. Jika tidak mampu merasakan hal tersebut yakinlah Allah senantiasa mengawasi kita. Tidak ada sejengkal tanah melainkan Allah menatapnya.

Rasulullah Saw saat. terpojok di gua Tsur muncul ungkapan laa takhof innallaaha ma’anaa. Janganlah takut, sesungguhnya Allah beserta kita. Ungkapan ini menenangkan Abu Bakar Ra yang menyertai. Orang-orang yang muhsinin memiliki jiwa yang selalu diawasi Allah, hidup dan kehidupannya beserta Allah, kenikmatan hidup yang diterimanya diatur Allah. Baik dalam keadaan sendiri atau di tengah keramaian jiwanya selalu merasa ditatap oleh Allah Swt. Buah Muroqobah inilah akan bisa menjaga dan menekan diri seseorang dari kejahatan, ia akan mampu meningkatkan nilai-nilai kebaikan.

 4 hal ini mesti dilakukan serentak dan setiap saat untuk menghasilkan kualitas keimanan yang tangguh dan membuat istiqamah dalam beribadah serta teguh dalam menghadapi berbagai godaan kehidupan.

Related

Break 5260844762071591595

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item