umdah

Jawaban Terhadap Pengingkar Bid’ah Hasanah

Umdah- Jawaban terhadap pengingkar bid’ah Hasanah bukan cerita baru, sebagaimana mereka yang mengingkar Bid’ah juga bukan wajah baru. Berikut ini kami akan sedikit mengulang kaji terhadap dalil-dalil yang mereka utarakan dan jawaban/penolakan terhadap dalil-dalil tersebut.

jawaban terhadap pengingkar bid'ah hasanah dan penjelasannya

Dalil mereka
Dalil yang sering kita dengar dari kalangan yang mengingkari adanya bid’ah hasanah: “Rasulullah dalam hadis riwayat Abu Dawud dari sahabat al-‘Irbadl ibn Sariyah telah bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ;رواه أبو داود 

Takut olehmu akan perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru itu Bid’ah dan setiap Bid’ah itu sesat (H.R Abu Dawud) 

Di sini secara jelas disebutkan perkara yang secara nyata tidak disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits atau tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan atau al-Khulafa' ar-Rasyidun maka perkara tersebut dianggap sebagai bid’ah dan Bid’ah tersebut adalah sesat.

Jawaban kita
Hadits ini lafadhnya umum tetapi maknanya khusus. Artinya yang dimaksud oleh Rasulullah dengan bid’ah tersebut adalah bid’ah sayyi-ah, yaitu setiap perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, sunnah, ijma' atau atsar. Al-Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim berkata: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah 'Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, jilid 6, halaman. 154).

Imam Nawawi membagi bid’ah menjadi lima macam. Beliau berpendapat “Jika telah dipahami apa yang telah aku tuturkan, maka dapat diketahui bahwa hadits ini termasuk hadis umum yang telah dikhususkan. Demikian juga pemahamannya dengan beberapa hadits serupa dengan ini. Apa yang saya katakan ini didukung oleh perkataan ‘Umar ibn al-Khaththab tentang shalat Tarawih, Umar berkata: “Ia (Shalat Tarawih dengan berjama’ah) adalah sebaik-baiknya bid’ah”.

Menurut Imam an-Nawawi, hadis riwayat Abu Dawud tersebut memang memakai kata “Kullu” sebagai ta’kid, namun bukan berarti sudah tidak mungkin lagi di-takhshish. Hadis tersebut telah ditakhsis. Sebagai perbandingan dalam QS. al-Ahqaf: 25, Allah berfirman: تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ ;الأحقاف: 25 Makna ayat ini ialah bahwa angin yang merupakan adzab atas kaum 'Ad telah menghancurkan kaum tersebut beserta segala harta benda yang mereka miliki. Bukanlah maksudnya angin tersebut menghancurkan segala sesuatu secara keseluruhan, karena terbukti hingga sekarang langit dan bumi masih utuh. Padahal dalam ayat ini menggunakan kata “Kullu”, yang secara umum termasuk langit dan bumi.

Sedangkan dalil-dalil yang men-takhshish hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” riwayat Abu Dawud ini adalah hadis-hadis dan atsar-atsar yang telah disebutkan dalam dalil-dalil adanya bid’ah hasanah pada pembahasan yang lalu, lihat di sini. Wallahua’lam.

Related

Wahabi 407663511351244139

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item