umdah

Nasehat Bagi Penuntut Ilmu


ilmu yang bermanfaat
Umdah- Pada kesempatan ini penulis akan sedikit berbagi tentang nasehat bagi penuntut ilmu, yang mendukung kita untuk rajin dalam mempelajari ilmu agama. Sebenarnya ada banyak nasehat yang telah dituliskan oleh para ulama dan para pakar tentang masalah ini, namun dalam artikel yang singkat ini, penulis hanya memaparkan nasehat ini secara singkat.

Nasehat Bagi Penuntut Ilmu

Faktor pertama yang harus ditanam dalam hati para penuntut ilmu adalah Keikhlasan. Disebutkan dalam Hamisy (pinggiran) kitab Ihya Ulumiddin karangan Imam Al-Ghazali jilid pertama kalau Murid Imam Ghjazali bertanya kepada beliau saat detik-detik terakhir Beliau berpulang kepada Allah Swt, “wahai Imam, berilah kami wasiat terakhirmu”. Lalu Imam menjawab “Ikhlaslah kamu dalam segala hal kebaikan”. 

Syaikh Yasin Al-Fadani dalam kitabnya Fawaid Janiyah ( hasyiah kitab Mawahib syarh nadham faraid bahiyah ) menulis bahwa “ pemahaman yang diperoleh oleh seorang muta’allim/mu’allim itu tergantung pada keikhlasannya dalam belajar dan mengajar”. Dari kedua pernyataan Ulama beda masa ini dapat kita ambil suatu hikmah bahwa Keikhlasan adalah modal utama dalam belajar dan mengajar, Faidah dari keikhlasan ini sendiri sangat besar baik di dunia/di akhirat. 

Kenapa keikhlasan bisa menjadi faktor dalam belajar mengajar? Sederhana, karena jika kita tanamkan ikhlas dalam belajar dan mengajar maka seluruh gerak langkah, seluruh ucapan, dan seluruh konsentrasi hati, semuanya tidak berdasar pada hal yang lain selain ikhlas. Di saat tidak berdasar pada hal yang lain, maka akan tetap selalu dalam ke-istiqamahan belajar. Kita tidak akan berhenti belajar dengan sebab terbenamnya matahari, karena kita belajar sebelumnya bukan karena dengan terbitnya matahari.

Akal kita sangat faham jika kita belajar karena mengharap sesuatu, maka saat sesuatu itu sirna tentu aktivitas belajar kitapun menjadi sirna pula. Dengan adanya keikhlasan pasti kita tidak akan meninggalkan belajar. Walau pada tahap ini kita belum berselimut dengan “rajin” namun setidaknya belajar ilmu agama telah menjadi nafas yang tidak pernah terlepas dengan jiwa.

Untuk mengakarnya ikhlas dalam jiwa kita, hendaknya teruslah membaca dalam hati 5 Bait syair ini disela-sela waktu malam. Yaitu: 
 [next]
Tanamkanlah ikhlas dalam dadaku wahai Rahman
Karena Aku hanya jendela kaca yang selalu mudah tertempel debu jalanan
Bersihkanlah jiwaku dari segala keinginan penghancur keikhlasan
Lepaskan oleh Mu racun ria dan cermin ketenaran
Semoga rumah impianku wujud nyata dengan dinding senyuman.

agar betah menuntut ilmu
Kala keikhlasan sudah terpaku dalam hati, tahapan selanjutnya dalam menuntut ilmu adalah rajin. Untuk bisa rajin, salah satu metode yang harus ditempuh adalah bertawassul.

Tawassul adalah hal yang dianjurkan dalam Islam. Tawassul adalah berdo’a kepada Allah dengan perantara para Nabi/Auliya/Ulama/Orang shalih, atau bisa dikatakan “Memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya bahaya (keburukan) kepada Allah dengan menyebut nama seorang nabi atau wali untuk memuliakan keduanya”. (Al-Hafizh al-’Abdari, al-Syarh al-Qawim, hal. 378).

Sebagai penuntut ilmu, ia harus sering bertawassul dan menziarahi kuburan para Orang Shalih dan berdo’a kepada Allah agar diberi sifat rajin dalam belajar. Seperti ziarah ke makam Sultan Malik As-Shalih di Geudong Samudera Pase, diiringi dengan bacaan surat Yasin, dan berdoa:

“Ya Allah...! Jadikanlah aku orang yang rajin dalam belajar ilmu-Mu dengan berkat do’a Hamba-Mu ini ya Allah, dan jadikanlah aku salah satu orang yang sangat mencintai ilmu agama dengan berkat do’a Hamba-Mu ini Ya Allah.”

Jadikanlah Tawassul ini sebagai kebiasaan kita dalam berdo’a, sebab kita adalah manusia yang telah berlumuran dosa, banyaknya dosa merupakan sebab terhalangnya do’a. Namun melalui perantara orang-orang yang telah dekat dengan Allah (Ulama/Orang Shalih), kemungkinan besar do’a kita akan diterima oleh Allah Swt.

Akal kita sangat paham bahwa Raja suatu negeri akan mengabulkan permintaan jika disampaikan melalui orang terdekatnya. Yakinlah, dengan seringnya kita melakukan ini, dengan izin Allah, sifat rajin tersebut akan menjadi selimut di setiap waktu. Luangkanlah waktu untuk membaca 6 Bait syair ini:
 [next]
Aku terlalu kotor untuk meminta tanpa perantara
Aku mencintai mereka yang telah Engkau beri bahagia
Nama mereka selalu ku sebut disetiap iringan do’a
Sebab meminta sendiri kadang tak pantas karena bau busuk dari buah dosa
Namun aku sangat berharap Ya Allah yang Maha Kuasa Dengan keberkahan do’a para Ulama-Mu berikanlah aku himmah dalam belajar ilmu agama.

hikmah menuntut ilmu
Di saat ”selimut rajin” datang, tahapan selanjutnya adalah melakukan hal yang membuat selimut itu tetap harum sehingga membuatmu selalu ingin bersamanya, yiatu Shalawat dan Istighfar.

Mari kita memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, karena kita akan gemar dalam belajar jika kita selalu bershalawat kepada Beliau. Kita tahu bahwa manfaat dari shalawat itu sendiri sangat banyak seperti banyaknya air lautan di setiap samudera dunia dan akhirat, mari menjadikan shalawat sebagai suatu kebiasaan pribadi masing-masing. Mari bershalawat 100x dalam sehari semalam.

Mungkin untuk memulainya terasa berat, namun di saat jiwa telah menyatu dengan shalawat maka mulai saat itulah hati terasa berat untuk meninggalkannya. Begitu juga dengan istighfar, perbanyaklah istighfar dan jadikanlah dia separuh dari ucapan lidah sebagai manusia yang banyak dosa. Debu di lantai akan hilang jika sering dibersihkan, mintalah ma’af kepada-Nya atas berbagai kesalahan yang pernah dilakukan.

Dengan seringnya bershalawat dan istighfar maka hati akan bersih dengan izin Allah. Jika hati sudah bersih, akan muncul rasa cinta terhadap ilmu agama, karena ilmu agama akan datang dan menetap dalam hati yang bersih. Ini adalah kenyataan yang jelas terlihat seperti terlihatnya seberkas cahaya dalam kegelapan.

Bacalah 7 bait syair ini sebagai pengingat terhadap bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW Ya Rasullallah:
Aku ini ummatmu yang hidup diakhir zaman
Syafaatmu dihari kelak adalah sebuah harapan
Bershalawat untuk mu semoga menjadi kebiasaan Ya Rasullallah,
Dirimu adalah ciptaan yang sangat mulia
Aku merindukanmu untuk bisa berjumpa
Pertemukanlah kami wahai yang Kuasa
Dihari nanti aku bisa mencium tangannya.
 [next]
Kemudian setelah bebeberapa hal yang tersebut di atas sudah dilakukan, maka tutuplah dengan membaca cerita kehidupan para Ulama. Salah satu faktor pendukung rajin belajar adalah dengan sering membaca/mendengar cerita kehidupan para Ulama, mari menggunakan waktu luang untuk membaca cerita kehidupan mereka. Dengan sering membaca kisah hidup mereka sedikit banyaknya akan mempengaruhi jiwa untuk menyelami ilmu agama. Seperti membaca kehidupan Ulama masa Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali atau lainnya.

Pikiran yang selalu diselimuti dengan biografi para Ulama akan selalu berjalan mencari jejak mereka Ini sangat jelas terlihat seperti terlihatnya matahari di waktu siang. Untuk memotivasi membaca kehidupan mereka Bacalah 7 bait syair dibawah ini:
Sejarahmu akan kupelajari
Jejakmu akan kuikuti
Pikiranmu akan kutelusuri
Malammu akan kucoba mengganti
Senyumanmu akan kunikmati
Kesedihanmu akan kuhargai
Aku terus berjalan walau dedaunan indah telah kembali. 
Demikianlah beberapa Nasihat untuk para penuntut ilmu, semoga bermanfaat. Wallahua’lam. 

 Oleh : Tgk. Mustafa Kamal M. Hasan Al-Bayuni

Related

News 7612606631635162141

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item