umdah

Mazhab Fikih Yang Muktabar


Aba Nisam
Umdah- Dalam memahami permasalahan agama, khusunya bidang hukum amaliah/fikih, wajib terhadap orang yang tidak mampu berijtihad langsung dari al-Qur`an dan hadis untuk mengikuti pendapat salah seorang imam mujtahid dengan aturan yang berlaku. Tradisi mengikuti pendapat orang lain dalam bidang fikih, yang lazim disebut dengan taklid atau bermazhab merupakan tradisi klasik yang sudah ada sejak masa sahabat Nabi.

Sejarah membuktikan bahwa jumlah sahabat pada saat Rasulullah wafat adalah 114000 (seratus empat belas ribu) orang. Dari jumlah besar ini hanya sebagian kecil sahabat Nabi yang merupakan mufti, yaitu sekitar 200 orang saja menurut Ibn al-Shalah, dan tidak sampai 140 menurut pendapat lain. Bila para sahabat yang merasakan dirinya tidak mampu berfatwa, akan selalu bertanya dan berkonsultasi mengenai hukum Islam saat itu kepada mereka yang mampu berfatwa, dan mengikutinya. Realitas sejarah ini menunjukkan bahwa sahabat yang tidak mampu berfatwa akan senantiasa mengikuti pendapat sahabat lain. Dengan demikian, tradisi taklid sudah ada pada masa sahabat Nabi.

Apa yang terjadi dalam realitas sejarah di atas disepakati oleh semua Sahabat tanpa ada penolakan dari seorang pun mereka. Para sahabat tidak pernah melarang orang lain bertanya sesuatu apalagi menyangkut masalah agama. Para sahabat tidak pernah memerintahkan orang bertanya, untuk menuntut ilmu agar sampai pada tingkat yang menjadikannya seorang mujtahid. Tradisi para sahabat ini merupakan sebuah realitas yang tidak mungkin terbantahkan karena diketahui secara umum dan diriwayatkan secara mutawatir sehingga menempatkannya pada posisi yang meyakinkan dalam pemahaman agama. Tradisi yang dilakukan oleh sahabat kemudian makin berkembang pada masa tabi’in dan masa-masa berikutnya. Kenyataan tersebut tentu saja suatu keniscayaan karena tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menggali hukum langsung dari sumbernya, dan merumuskan metode penggaliannya, meskipun ia seorang ulama.
 [next]
Berkaitan dengan pendapat atau mazhab yang boleh diikuti dalam fikih, para ulama berbeda pandangan setidaknya ke dalam tiga pendapat sebagai berikut: 
  1. Pendapat pertama mengatakan, mazhab yang boleh diikuti terbatas hanya pada empat mazhab saja, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Alasannya karena isi fatwa dan metode istinbath hukum dalam keempat mazhab tersebut telah dikumpulkan dan dibukukan oleh masing-masing imam yang bersangkutan. Oleh sebab itu, isi mazhab tersebut dipandang sangat akurat. Hal ini tidak terjadi pada mazhab-mazhab sebelumnya. Karena itu, isi selain mazhab empat tidak tertutup kemungkinan telah berubah dari aslinya disebabkan periwayatannya hanya bersifat oral saja. Berdasarkan hal ini maka selain mazhab empat tidak boleh diikuti, baik dalam bidang fatwa, qadha` (memutuskan hukum di pengadilan), maupun untuk beramal secara pribadi . Menurut Wahbah al-Zuhaili, Pendapat pertama ini dikemukakan oleh mayoritas ulama muta`akhkhirin.
  2. Pendapat kedua mengatakan, boleh mengikuti selain mazhab empat tetapi hanya untuk beramal secara pribadi, bukan untuk melakukan fatwa atau qadha` dengannya. Kebolehan di sini tidak secara serta-merta, tetapi dengan beberapa syarat tertentu. Di antaranya, mazhab tersebut harus berada dalam ruang lingkup teologi Ahlusunnah wal-Jama’ah dan dipertimbangkan perbedaan pendapat dengannya. Berdasarkan persyaratan di atas, maka mazhab Syi’ah dengan berbagai sektenya dan sebagian pendapat dalam mazhab Zhahiriyyah tidak masuk dalam kategori boleh diikuti. Keluarnya mazhab Syi’ah karena mereka memiliki teologi yang menyimpang dari Ahlussunnah wal-Jama’ah. Sedangkan keluarnya sebagian pendapat mazhab Zhahiriyyah karena perbedaan pendapat dengannya tidak diperhitungkan. Artinya, jika semua mazhab mu’tabar telah menyetujui suatu hukum, maka dianggap telah terjadi ijma’ meskipun mazhab Zhahiriyyah tidak menyetujuinya, karena mereka punya kecacatan dalam metode istinbath yakni penolakan mereka terhadap qiyas al-jali. Lebih jauh lagi, mayoritas ulama menegaskan bahwa mazhab Zhahiriyyah secara umum tidak boleh diikuti dan tidak diperhitungkan perbedaan pendapat dengannya. Di samping syarat di atas, mazhab tersebut harus akurat dan dikodifikasikan, meskipun pengkodifikasiannya bukan oleh ulama dari mazhab yang bersangkutan, namun ditemukan di dalam literatur mazhab lain, asalkan periwayatan mazhab tersebut bersifat otentik dan terpercaya. Jika pendapat mazhab tersebut tidak dikodifikasikan maka tidak boleh bagi orang-orang awam untuk mengikutinya, meskipun itu pendapat sahabat Nabi atau tabi’in. Pendapat yang kedua ini dikemukakan oleh sebagian tokoh ulama Muta`akhkhirin, seperti Ibn Hajar al-Haytami.
  3. Pendapat ketiga menegaskan bahwa patokan boleh dan tidak bolehnya mengikuti suatu mazhab terletak pada ke-shahih-an dan keakuratan isi mazhab tersebut di sisi orang yang ingin mengikutinya, meskipun mazhab itu berada di luar mazhab empat, lebih-lebih lagi mazhab sahabat Nabi. Sebagai contoh, seseorang meyakini secara shahih tentang suatu pendapat sahabat Nabi, maka tidak boleh berpaling darinya kepada mazhab lain kecuali menemukan dalil pijakan mazhab lain ternyata lebih kuat dan jelas. Pendapat yang ketiga ini dikemukakan oleh salah seorang pembesar ulama Syafi’iyyah abad ke-7 H, yakni ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam. Secara explisit, pendapat ini tidak membatasi kebolehan mengikutinya pada beramal untuk pribadi saja. Karenanya, kebolehan ini mencakup juga bidang fatwa dan qadha`.
 [next]
Dari tiga pendapat di atas terlihat jelas bahwa permasalahan mengikuti mazhab empat merupakan hal yang disepakati. Perbedaan ketiganya hanya terletak pada masalah mengikuti selain mazhab empat. Dalam perbedaan tersebut, pendapat pertama sangat mempersempit ruang lingkup mazhab yang boleh diikuti, dengan tidak memberikan sedikitpun ruang mengikuti selain mazhab empat. Pendapat kedua agak sedikit longgar dengan membuka celah kebolehan mengikuti selain mazhab empat untuk beramal secara pribadi meskipun dengan berbagai persyaratan. Pendapat ketiga merupakan pendapat yang paling longgar dengan menetapkan patokan boleh dan tidak bolehnya mengikuti suatu mazhab pada keakuratan isinya di sisi orang yang ingin ber-taklid padanya.

Jika kita memandang bahwa tiga pendapat di atas benar-benar berbeda secara substansi, menurut penulis, pendapat pertama lebih meyakinkan untuk dijadikan sebagai pegangan dan diimplementasikan, baik dalam ruang privat maupun ruang publik, meskipun pendapat ini demikian sempit. Mayoritas ulama Muta`akhkhirin menetapkan pendapat ini setelah melakukan penelitian yang intens terhadap berbagai pendapat dari luar mazhab empat yang beredar dan tersebar di mana saja. Setelah melakukan penelitian, ditemukan bahwa sulit membuktikan secara nyata kalau pendapat di luar mazhab empat itu memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan oleh Ibn Hajar al-Haytami dan ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam.

Salah seorang ulama Muta`akhkhirin yang menulis hasyiyah dan komentar terhadap kitab Tuhfah al-Muhtaj karya Ibn Hajar al-Haytami, yakni al-Syarwani, ketika menanggapi pendapat Ibn Hajar al-Haytami tentang kebolehan mengikuti selain mazhab empat jika mazhab itu dilestarikan dan dikodifikasi, mengatakan “pendapat ini boleh saja jika memang persyaratan itu diperdapatkan, tetapi sejauh penelitian kami, tidak kami dapatkan secara nyata bahwa yang di luar mazhab empat itu dilestarikan dan dikodifikasi”. Menurut penulis, al-Syarwani tidak membantah pandapat Ibn Hajar Hajar dan ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam, tetapi ia hanya mengatakan sejauh penelitiannya, persyaratan tersebut tidak ditemukan, yang secara implisit melahirkan pemahaman tidak boleh mengikuti selain mazhab empat.
 [next]
Jika dikaji lebih jauh, pada hakikatnya pendapat ulama muta`akhkhirin ini tidak bertentangan dengan pendapat Ibn Hajar dan Ibn ‘Abd al-Salam, karena kedua ulama ini membuka ruang boleh mengikuti selain mazhab empat jika memenuhi persyaratannya. Secara implisit, seandainya persyaratan itu tidak ada maka tidak boleh mengikutinya. Kedua ulama ini tidak menegaskan bahwa persyaratan tersebut ditemukan secara nyata atau pun tidak. Namun setelah diteliti oleh kalangan muta`akhkhirin ternyata syarat itu tidak ditemukan. Jika tidak memenuhi persyaratan, kedua ulama besar ini juga menetapkan tidak boleh mengikuti selain mazhab empat. Oleh karena itu ketiga pendapat di atas dapat disatukan dan dikompromikan karena secara nyata tidak diperdapatkan syarat-syarat kebolehan mengikuti selain mazhab empat. Dari pengkompromian ini dapat dikatakan ketiga pendapat tersebut sepakat menyatakan tidak boleh mengikuti selain mazhab empat karena kenyataannya tidak memenuhi persyaratan. Pengkompromian pada masalah ini, juga pernah dikemukakan oleh Ibn al-Subki sebagaimana dikutip oleh Ibn Hajar, sehingga menurut Ibn al-Subki pada masalah ini tidak terdapat perbedaan pendapat secara subtansial, hanya perbedaan dalam kerangka pengungkapan saja (khilaf lafzi). Alasan lainnya, beredar dan tersebarnya semua pendapat mujtahid terdahulu sejak masa sahabat Nabi terbagi dua bentuk. Bentuk pertama, pendapat-pendapat tersebut diriwayatkan melalui sanad (mata rantai periwayatan/silsilah) yang akurat, atau dikodifikasikan di dalam kitab-kitab yang terus dilestarikan dan diberi perhatian oleh ulama masa berikutnya dengan memilih pendapat kuat di antaranya, menjelaskan batasan keumumannya, mengkompromikan pertentangannya, dan menampakkan ilat-ilat hukum di dalamnya. Bentuk kedua, pendapat-pendapat tersebut tidak diriwayatkan melalui mata rantai yang akurat dan tidak pula dikodifikasikan.

Dari dua bentuk di atas, secara rasional, bentuk pertamalah yang dapat dipercaya keasliannya. Bila melihat kepada sejumlah mazhab fikih yang ada sekarang, hanya mazhab empat yang memenuhi kriteria tersebut. Adapun selain mazhab empat diragukan keasliannya karena tidak diriwayatkan secara shahih dan tidak pula dikodifikasikan. Oleh karenanya, meskipun yang di luar mazhab empat itu merupakan mazhab sahabat Nabi tetap tidak boleh diikuti.
 [next]
Bukannya kita tidak percaya sahabat Nabi. Mereka merupakan generasi terbaik dalam umat ini, mereka adalah orang-orang yang agung, bahkan di antara mereka ada yang sudah mendapat jaminan surga dari Rasullullah sendiri, kita meyakini kredibilitas mereka. Tetapi, yang dipertanyakan adalah apa benar itu pendapat sahabat Nabi?. Pertanyaan ini sangat wajar karena sahabat Nabi tidak menulis isi mazhabnya di dalam kitab-kitab. Selanjutnya mazhab mereka diriwayatkan dari mulut ke mulut. Periwatan seperti ini membuka ruang yang sangat lebar untuk terjadinya perubahan-perubahan dari aslinya. Jadi, bukan kita tidak menghormati sahabat Nabi, tapi yang kita ragukan adalah keaslian pendapat itu dari sahabat Nabi.

Dalam mengamalkan hukum-hukum agama kita diharuskan ekstra hati-hati, sehingga kita tidak diperbolehkan mengikuti pendapat siapa saja yang belum diyakini keasliannya, kredibilitas mujtahid yang memfatwakannya, dan kelurusan metode istinbath-nya. Karenanya, dalam bermazhab kita harus mengikuti mazhab yang secara rasional diyakini kesliannya, yakni mazhab empat.

REFERENSI 
Al-Nawawi, Abi Zakariyya Yahya ibn Syarf, Irsyad Thullab al-Haqa`iq ila Ma`rifah Sunan Khair al-Khala`iq, Cet. II, Beirut: Dar al-Basya`ir al-Islamiyyah, 1991; 
Al-Syarwani, ‘Abd al-Hamid, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, Jld. X, Beirut: Dar al-Fikr, tt; 
 Ibn al-Shalah, Abu ‘Amr, Fatawa Ibn al-Shalah, Tahqiq: Sa’id Muhammad Sanari, Kairo: Dar al-Hadits, 2007 ________, 
Muqaddimah Ibn al-Shalah fi ‘Ulum al-Hadits, Cet. II, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006; 
 Ibn Hajar al-Haytami, Syihab al-Din Ahmad ibn Hajar, al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, Jld. IV, ;Beirut: Dar al-Fikr, tt; _______, 
Tuhfah al-Muhtaj, Jld. X, Beirut: Dar al-Fikr, tt; 
‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam, Kitab al-Fatawa, Ta’liq: ‘Abd al-Rahman ibn ‘Abd al-Fattah, Cet. I, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1986; 
Muhammad Nur al-Din Merbau Banjar al-Makki, Ma’lumat Tahammuk Haul, Cet. I, Kairo: Majlis Ihya` Kutub Turats al-Islami, 1994; 
Sayyid ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad, Bughyah al-Mustarsyidin fi Talkhis Fatawa ba’dh al-A`immah min al-‘Ulama` al-Muta`akhkhirin, Beirut: Dar al-Fikr, 1995; 
 Wahbah al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Jld. II, Damsyiq: Dar al-Fikr, 2005.

  Oleh: Tgk. H. Helmi Imran, MA

Related

Opini 407040083707864404

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item