umdah

اليقين لا يزال بالشك (Keyakinan Tidak Dapat Dihilangkan Oleh Keraguan)


belajar kaidah figh

Pendahuluan
Kata al-yaqiin secara etimologi berarti keyakinan dan kepastian. Dalam redaksi yang lain penulis juga mendapatkan al-yaqiin memiliki makna yang senada dengan makna di atas, yaitu ketetapan hati  (thuma’ninah al-qalb) terhadap suatu kenyataan atau realita tertentu. Lebih jauh lagi Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa yakin adalah kemantapan hati untuk membenarkan sebuah objek hukum, dimana hati juga mampu memastikan bahwa kemantapan itu adalah hal yang benar.

Yakin dalam konteks kaedah ini memiliki makna yang lebih luas dibandingkan pengertian yakin secara etimologis. Sebab yang dimaksud yakin di sini termasuk zhan (praduga kuat), dimana zhan sendiri belum mencapai derajat yakin, namun para fuqaha terbiasa menggunakan kata al-‘ilmu (tahu) dan yakin untuk menunjukkan makna zhan dan sebaliknya.

Sedangkan kata syak secara etimologi bermakna keragu-raguan atau kebimbangan. Secara spesifik ahli fiqh memaknai syak sebagai keraguan dan kebimbangan akan terjadinya sesuatu atau tidak terjadinya. Sedangkan menurut terminologi, Imam Nawawi menyatakan bahwa syak dalam istilah fuqaha didefinisikan sebagai keraguan antara wujud dan tidaknya sesuatu.

Fuqaha juga menegaskan bahwa yang dimaksud tidak hilang (laa yazalu) pada kaidah ini bukan berarti keyakinan itu sendiri yang sirna, sebab hal itu mustahil terjadi, akan tetapi hukum yang telah terbangun berdasarkan keyakinan itu yang tidak hilang. Sebagaimana pendapat Abu bakar Ibn Muhammad

Jadi maksud dari kaedah ini adalah semua hukum yang sudah berlandaskan pada suatu keyakinan tidak dapat dipengaruhi oleh adanya keragu-raguan yang muncul kemudian, sebab ragu-ragu yang merupakan unsur eksternal dan muncul setelah keyakinan tidak akan bisa menghilangkan hukum yakin yang telah ada sebelumnya.
 [next]
A.    Sumber Pengambilan Kaedah
Para ulama usul fiqh dalam membuat kaedah ini mengambil dasar dari beberapa sumber berikut;
1.    Al-Quran
 Terdapat beberapa ayat yang menjadi dasar terbebentuknya kaedah ini, diantaranya ialah sebagai berikut;
a.    QS. Yunus : 36
وما يتبع أكثرهم إلا ظنا إن الظن لا يغني من الحق شيئا ;يونس : ٣٦
Artinya:”kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali prasangka saja. Sesungguhnya prasangka itu tidak akan mengantarkan kebenaran sedikitpun”. (QS. Yunus : 36)
ayat ini mulanya menyoroti karakter orang-orang musyrik yang sering  kali berpegang pada prasangka-prasangka yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

2.    Hadist
Banyak sekali hadist yang menjadi dasar terbentuknya kaedah ini, diantaranya ialah sebagai berikut;
a.    HR. Muslim
إذا شك أحدكم في صلاته فلم يدر كم صلى ثلاثاً أم أربعاً فليطرح الشك وليبن على ما استيقن  :رواه مسلم
“apabila salah seorang kamu meragukan shalatnya, lalu ia tidak mengetahui berapa raka’at yang telah ia kerjakan, tiga atau empat, maka hendaklah ia membuang hal yang meragukan itu  dan berpegang pada keyakinannya”. (HR. Muslim)
sebagaimana termaktub didalam kitab  Al-Fawaidul Janiyah karangan Abi Al-Fadani Muhammad Yasin, , cet. I, (Beirut ; Daral Mahaja, 2008), pada halaman. 183
Hadist ini memberi isyarah bahwa bila ada dua bilangan yang membuat kita ragu terhadap mana yang benar untuk dikerjakan , maka bilangan terkecillah yang menjadi pegangan.
b.    HR. Muslim
إذا وجد أحدكم في بطنه شيئا فأشكل عليه أخرج منه شيء أم لا فلا يخرجن من المسجد حتى يسمع صوتا أو يجد ريحا : رواه مسلم
“apabilah salah seorang kamu mendapatkan sesuatu didalam perutnya, lalu timbul kemusykilan apakah sesuatu itu keluar dari perut atau tidak, maka janganlah keluar dari mesjid, sehingga ia mendengar suara atau mendapatkan baunya” (HR. Muslem)
Kandungan hadist ini menjelaskan bahwa seseorang yang semula suci, kemudian ia ragu-ragu apakah ia telah mengeluarkan angin atau belum, maka ia harus dianggap masih dalam keadaan suci. Menurut Imam Nawawi, hadist ini merupakan salah satu landasan dasar yurisprudensi Islam yang kemudian dijadikan fundamen terbangunnya kaedah-kaedah fiqh. HR. Bukhari-Muslim
شكي إلى النبي صلى الله عليه وسلم الرجل يخيل إليه أنه يجد الشيء في الصلاة، قال لا ينصرف حتى يسمع صوتا أو يجد ريحا  :  رواه بجاري و مسلم
“ Nabi SAW diberi kabar mengenai seorang yang merasakan angin (yang keluar dari perut) dalam shalatnya. Beliau berkata “janganlah dia berhenti shalat sampai ia mendengar suara atau mencium bau”. (HR. Bukhari-Muslim)
  [next]
Hadist ini merupakan lanjutan hadist kedua di atas, sekaligus penegasan akan substansi yang terkandung di dalamnya. Nabi menegaskan dua hal: Pertama, keraguan yang berupa perasaan keluar angin tidak dapat merubah status hukum yang telah diyakini sebelumnya, yakni kondisi suci. Kedua, keyakinan yang ada hanya dapat dikalahkan oleh keyakinan yang lain.
c.    HR. Tarmidzi
إذا سها أحدكم في صلاته فلم يدر واحدة صلى أو ثنتين فليبن على واحدة فإن لم يدر اثنتين صلى أو ثلاثا فليبن على ثنتين فإن لم يدر ثلاثا صلى أو أربعا فليبن على ثلاث وليسجد سجدتين قبل أن يسلم :رواه التر مذى 

’’Apabila salah satu diantara kalian lupa didalam shalat, apakah sudah mencapai satu atau dua rakaat?. Maka hendaklah ia meyakini sebagian rakaat pertama. Apabila kalian tidak yakin apakah shalat dua rakaat atau tiga?. Maka hendaklah meyakinkan pada rakaat yang kedua. Apabila tidak tahu apakah tiga atau empat, maka hendaklah melanjutkan rakaat yang ketiga. Dan hendaklah melakukan dua sujud (sahwi) sebelum salam” (HR. Tarmidzi)
Dalam hadist ini Nabi SAW lebih menjelaskan maksud dari ma istayaqqana. Apabila ragu antara satu dan dua, maka yang dipilih adalah satu. Demikian pula seterusnya, artinya bahwa apabila terjadi keraguan dalam hal bilangan semisal jumlah rakaat maka yang dijadikan pegangan adalah bilangan yang paling sedikit.

B.    Aplikasi Kaedah Dalam Hukum Fiqh
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa penerapan kaedah tersebut dalam hukum fiqh cukuplah banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ranah hukum ‘ubudiah maupun dalam transaksi-transaksi syar’I atau yang biasa disebut muamalah, diantaranya ialah sebagai berikut:
  1. Keyakinan akan sahnya thaharah (bersuci), seseorang yang sebelumnya telah yakin bahwa dia berada dalam kondisi suci, misalnya wudhuk, tidak akan hilang hukumnya disebabkan keraguan yang muncul kemudian.
  2.  Bila ketika timbul keraguan antara suami istri yang telah nyata-nyata sah, tapi suatu ketika timbul keraguan apakah sang suami telah menjatuhkan talak atau tidak. Maka hukum nikahnya tetap dianggap sah, karena hukum asal berupa ikatan nikah diantara keduanya telah sah sejak semula.
  3. Seorang istri mengaku belum diberi nafakah untuk beberapa waktu, maka yang dianggap benar adalah kata istri, karena yang meyakinkan adanya tanggung jawab suami terhadap istrinya untuk memberi nafakah kecuali apabila suami memiliki bukti yang meyakinkan pula.
  4. Seseorang menyangka kepada orang lain melakukan kejahatan, maka sangkaan tersebut tidak dapat diterima, kecuali ada bukti yang sah dan meyakinkan bahwa orang tersebut telah melakukan kejahatan.
Dan masih banyak contoh lainnya di berbagai bidang fiqh khususnya, sehingga muncul kaedah ini.
  [next]
C.    Kaedah-Kaedah Cabang

Telah maklum bahwa setiap kaedah dasar pasti memiliki kaedah-kaedah cabang yang senada dan memiliki substansi sama walaupun berbeda dalam pengungkapannya. Pada kaedah  al- yaqinu  laa yazalu bisyakki  ini,  para ulama usul fiqh mengemukakan ada beberapa kaedah cabang, diantaranya ialah sebagai berikut;   
1.                                                                                                               الأصل في الأشياء الإباحة
“Hukum asal segala sesuatu adalah boleh ”
Dalam tataran praktis, kaedah ini dapat diterapkan jika kita menemukan hewan, tumbuhan atau apa saja, yang belum diketahui status hukumnya dalam syari’at. Semua jenis barang tersebut dihukumi halal, sesuai subtansi yang dikandung kaedah ini.

2.                                                                                                                             الأصل براءة الذمة
“hukum asal adalah bebasnya seseorang dari tanggung jawab”
Kaedah ini menandaskan bahwa, patokan dasar manusia dalam hubungan masyarakat maupun individualnya adalah keterlepasannya dari tanggung jawab orang lain (zimmah) ketika hak itu belum pasti. Contohnya ialah terdakwa  yang menolak akad sumpah tidak dapat di terapkan hukuman, karena menurut asalnya ia bebas dari tanggungan dan yang harus diangkat sumpah ialah si pendakwa.

3.                                                                                                      الأصل بقاء ما كان على ما كان
“hukum asal adalah ketetapan yang telah dimiliki sebelumnya”
Kaedah ini melandaskan bahwa suatu perkara yang telah berada pada satu kondisi tertentu dimasa sebelumnya, akan tetap seperti kondisi semula selama tidak ada dalil yang menunjukkan terhadap hukum lain. Alasan utama mengapa hukum pertama yang harus dijadikan pijakan hukum, karena dasar segala sesuatu adalah tidak berubah atau tetap seperti sedia kala (baqa’). Contohnya ialah seseorang yang yakin dalam keadaan suci, kemudian ia ragu dalam keadaan berhadas, maka ia tetap suci. Permasalahan ini bisa kita meruju’ dalam kitab Asybahu Wannadhair, karangan Jalaludin Al-Sayuthi, cet. I, (Jakarta; Al-Haramain, 2008), h. 61. 
4.                                                                                                                               الأصل عدم الفعل
“Hukum asal adalah tiadanya pekerjaan”
Sub kaedah ini menyatakan bahwa pada dasarnya setiap orang mukallaf dinilai belum melakukan sebuah pekerjaan sebelum pekerjaan tersebut sudah benar-benar wujud secara nyata dan diyakini keberadaannya. Contohnya, seseorang yang ragu ketika shalat subuh, apakah ia telah qunut  atau tidak, maka ia dianjurkan melakukan sujud sahwi, karena hukum asalnya ia tidak mengerjakan qunut.
  [next]
D.    Pengecualian Kaedah
Sebagaimana yang telah dimaklumi, kaedah ini merupakan sebuah kaedah aghlabiah, yakni tidak semua masalah keraguan dan rasa yakin yang dialami termasuk ke dalam cakupan kaedah ini, akan tetapi terdapat beberapa masalah yang  dikecualikan, antara lain;
  1.  Wanita yang sedang menstruasi yang ragu apakah sudah berhenti atau belum, maka ia wajib mandi besar untuk shalat.
  2. Laki-laki yang ragu, apakah yang keluar dari zakarnya itu mani atau madzi, padahal ia ragu yang keluar itu mani yang dapat mewajibkan mandi atau madzi yang tidak mewajibkan mandi. Maka ia juga wajib mandi besar.
  3. Baju seseorang terkena najis, tetapi ia tidak tahu bagian mana yang terkena najis, maka ia wajib mencuci baju seluruhya.
  4. Ragu terhadap masih luaskah waktu untuk mengerjakan juma’t atau tidak.  Ragu jikalau kurangnya harta yang dizakatkan dalam timbangan sesudah yakin sempurna harta tersebut sebelumnya. Hal diatas bedasarkan pemahaman penulis dari kitab Al-Fawaidul Janiyah dihalaman 185.
 
E.    KESIMPULAN

Dari sejumlah uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa rasa yakin yang biasa mengawal hidup manusia, baik dalam dunia bisnis, relasi sosial, hingga interaksi spritualnya merupakan modal primer yang tidak layak untuk disia-siakan. Rasa yakin akan mengiring manusia menuju kunci kesuksesan dan keberhasilan menggapai kebahagiaan hidup dunia akhirat. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keyakinan, perjalanan hidupnya akan goyah tak tentu arah.

Keyakinan yang dimaksud pada kedah ini ialah tercapainya kemantapan hati pada satu objek hukum yang telah dikerjakan, baik kemantapan itu sudah mencapai kadar pengetahuan yang mantap atau persepsi kuat (zhan), jadi bukanlah sebuah kemantapan hati yang disertai dengan keraguan saat melaksanakan pekerjaan, karena hal itu tidak terkmasuk katagori yakin.
Secara sistematis, sebagian ulama memilah kondisi hati dalam lima bagian berikut:
  1. Yaqin, yakni keteguhan hati yang bersandar pada dalil qath’iy (petunjuk pasti).
  2.  I’tiqad, yakni keteguhan hati yang tidak bersandar pada dalil qath’iy.
  3. Zhan, yakni presepsi atau asumsi hati terhadap dua hal berbeda, dimana salah satunya lebih kuat.
  4. Syak, yaitu sebentuk prasangka terhadap dua hal tanpa mengunggulkan salah satu diantara keduanya.
  5. Waham, yaitu kemungkinan yang lebih lemah dari dua hal yang diasumsikan.

والله اعلم
.

Related

Telaah 1520558359868372294

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item