umdah

Diri Dalam Data

Era sekarang memang mengubah segalanya. Dunia sekarang tak ubahnya seperti sebuah dusun kecil, apa saja kejadiannya, kapan saja, dimana...


Era sekarang memang mengubah segalanya. Dunia sekarang tak ubahnya seperti sebuah dusun kecil, apa saja kejadiannya, kapan saja, dimana saja bisa mempengaruhi siapa saja. Bila dulu untuk mengetahui sebuah informasi membutuhkan waktu beberapa hari atau jam, sekarang hanya membutuhkan beberapa menit untuk mengakses atau meresapi setiap data. Jadilah kita sekarang sebuah generasi yang diam karena dunia sudah terlalu (di) dalam diri kita.

Generasi yang tidak terusik ketika berhadapan dengan monitor atau keypad di gadget-gadget terbaru. Manusia-manusia yang sangat praktis, bahkan hiperpragmatis, dengan kantong yang tipis tetapi padat isi dan makna: ada dunia di dalam sakunya, dalam bentuk yang tidak lebih besar dari bungkus rokoknya. mengakses dan meresepsi data, kata, dan makna hanya dengan cubitan di kotak screen. Dengan ujung telunjuknya kita memindai semesta dalam kecepatan daya tangkap visual dan kognitif yang luar biasa, itulah gambaran sekarang. Kita sekarang tidak bisa berlari dari kenyataan ini namun pertanyaannya apakah kita berada dalam data? Atau sebaliknya, data berada dalam diri kita?

Sebenarnya dengan demikian majunya era teknologi atau informasi memberi peluang besar bagi kita untuk melakukan dan memindai semua hal yang berguna buat orang banyak. Kalau mau bicara jujur kita masih berada di landasan pacu, semua orang sekarang sedang berlomba-lomba untuk membuat arus.

Dalam berbagai macam media sesuai dengan kepentingannya, kita hanya masih menjadi pengintip yang berbisik atas kesalahan yang dibuat mereka. Butuh kerja keras dan segudang semangat untuk mengikuti arus informasi sekarang dalam hal kebaikan, kita harus menjadi pemasok data-data utama dalam semua lini sesuai dengan kapasitas, sehingga tidak hanya terjebak dalam arus tapi mengikuti arus dengan gaya dan nada masing-masing.

Menurut saya dengan atmosfir seperti saat ini, kita sebagai kaum terdidik, yang mempunyai tanggung jawab moral yang besar, apakah buat agama, atau bangsa, sudah seharusnya membawa diri dalam data lewat arus menulis, menulis apa saja yang tentunya sesuai dengan kapasitas. Data kita terlalu menipis atau bahkan sangat tipis untuk dikonsumsi banyak orang. Mari lucuti diri dengan menulis.

By : Zahrul Fuadi

Related

Telaah 571261588029457385

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item