umdah

Dayah Babus Salam Al-Aziziyah yang Cetar Membahana

Umdah-Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Dayah Babussalam Al-Aziziyah merupakan salah satu dayah tua di Aceh. Lembaga Dayah yang berlokasi di jalan Banda Aceh-Medan, KM 192, Gampong Blang Me Barat, Kec Jeunieb, Kab Bireuen, Provinsi Aceh ini didirikan pada tahun 1964 Masehi oleh Tgk H Abdul Wahab Bin Hasballah,. Sosok kharismatik yang biasa disapa dengan Abu Wahab Jeunieb ini merupakan alumnus Dayah Darul Muhaqqiqin Darussalam, Labuhan Haji, Aceh selatan, pimpinan Abuya Muda Wali Al-Khalidi. 

Pemandangan di depan Mushalla

Salah satu asram dua lantai di samping kantor seketariat
Dibawah kepemimpinan Abu Wahab, secara perlahan dayah ini mulai berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas. Satu persatu masyarakat sekitar datang dan menitipkan anaknya untuk menimba ilmu di lembagai ini. Dengan kemampuan seadanya, Abu Wahab dibantu masyarakat sekitar membangun beberapa fasilitas pendukung, antara lain: ‘baleebeut’, musalla, MCK dan beberapa asrama berkonstruksi kayu dan beton. Selain itu, di era kepemimpinan Abu Wahab, dayah ini tersohor dengan nama “Bale Hameh”. Julukan yang bermakna “Balai Kamis” itu sendiri dikenal karena sejak tahun 70-an pada setiap Kamis pagi, di dayah ini rutin diadakan pengajian tingkat tinggi yang diikuti oleh pimpinan dayah dan teungku-teungku pesisir Aceh. 
 [next]
Pengajian mingguan ini begitu fenomenal di kalangan masyarakat dan teungku-teungku saat itu karena dibimbing langsung oleh ulama-ulama kharismatik yang sangat disegani. Adalah Tgk H Abdul Aziz bin Muhammad Shaleh atau lebih dikenal dengan Abon Samalanga yang pertama kali membuka dan memimpin pengajian ini hingga tahun 1988. Setelah beliau wafat pada tahun 1989, posisi Abon Samalanga sebagai pembimbing pengajian digantikan oleh Abu Tumin Blang Bladeh hingga pertengahan tahun 1991. Kehangatan pengajian tingkat tinggi ini membuat Dayah Babussalam Al-Aziziyah kian dikenal saat itu.

pengajian rutin
Seiring perjalanan waktu, pada pertengahan tahun 2001, bertepatan dengan 11 RabiulAwal 1424 Hijriyah, Abu Wahab kemudian mempercayakan tampuk pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah pada putra bungsu beliau, Tgk H Muhammad Yusuf Abdul Wahab. Sosok yang biasa disapa Tu Sop ini merupakan salah satu alumnus terbaik Ma’had Ulum Diniyah Islamiah (MUDI) Mesjid Raya, Mideun Jok, Samalanga era 90-an. Di tangan Tu Sop, Dayah Babussalam Al-Aziziyah terus berbenah. Kualitas pendidikan semakin ditingkatkan, kedisiplinan kian digalakkan dan pengkajian khazanah-khazanah keilmuan juga terus diperdalam.
 [next]
Alhasil, tiga tahun dibawah kepemimpinan Tu Sop, jumlah santri yang mondok memperdalam ilmu pengetahuan agama di dayah ini meningkat drastis. Hingga tahun 2004 jumlah santri tercatat mencapai 400-an orang. Terdiri dari 70 % masyarakat sekitar dan sisanya dari berbagai daerah lain. Dalam menyukseskan pendidikan saat itu, Tu Sop dibantu oleh 5 orang guru senior. Antara lain, Tgk H Muhammad Hasan A Wahab (kini pimpinan dayah Babussalam Putri Jeunieb), Tgk Nasruddin Judon (kini Pimpinan Dayah Dhiaul Haq Al- Aziziyah Jeunieb), Tgk Fihrin (Kini pimpinan dayah di Meulaboh), Tgk Muhammad Hasan (Alm) dan Tgk Aminan Hasan (kini pimpinan dayah Raudhatul Ma’arif LhokSeumawe). Disisi lain, dalam kurun waktu tiga tahun kepemimpinan Tu Sop, pembangunan fasilitas dan fisik dayah juga semakin ditunjang. Tu Sop membangun musalla permanen yang berukuran 19x12 meter, satu unit Aula berukuran 15x10 meter, menambah jumlah asrama santri yang semula berjumlah 9 pintu menjadi 32 pintu, menambah jumlah ‘balee beut’, merehab MCK dan membangun fasilitas pendukung lain.

Di saat aktifitas belajar berjalan dengan baik dan fasilitas dayah sudah lumayan memadai, ternyata Allah swt punya rencana lain. Pada pertengahan tahun 2004, dayah ini diterpa musibah yang memilukan. Tepatnya Minggu dini hari, sekitar jam 03.00 WIB, tgl 18 Juli 2004, kobaran api yang diduga berasal dari konslet listrik menghanguskan sejumlah fasilitas dayah. Dua gang asrama santri yang berjumlah 23 pintu beserta barang-barang milik santri, satu unit musalla, 3 unit ‘balee beut’ dan sebagian aula yang memang dibangun dengan kontruksi kayu hangus terbakar. 

zikir akbar zikra al-hasani saat memeperingati tahun baru muharam 1436 di dayah Babus salam
Musibah ini sedikit banyaknya berpengaruh pada psikologi santri dan mengakibatkan mandegnya kegiatan rutin selama dua minggu. Efek yang kemudian timbul, karena tidak lagi memiliki barang-barang keperluan, sebagian santri memilih pulang kampong dan sebagiannya lagi bertekat untuk bertahan di dayah dengan kondisi seadanya. Alhasil, setelah kegiatan rutin dayah kembali stabil, jumlah santri yang masih bertahan di dayah menurun drastis. Jumlah santri yang tinggal saat itu hanya sekitar 100 orang. Dengan motivasi dari pimpinan, para santri yang tersisa ini terus melanjutkan belajar dengan semangat dan hasilnya merekalah yang sekarang menjadi guru-guru di dayah Babussalam Al-Aziziyah. 
[next]
Setelah mengalami musibah itu, dayah Babussalam Al-Aziziyah, dibawah semangat Tu Sop bangkit dari keterpurukan. Kegiatan belajar mengajar dimaksimalkan kembali. Bangunan-bangunan yang hangus dilalap api secara perlahan kembali dibangun. Kini, diatas sisa bangunan musalla yang hangus terbakar berdiri kembali musalla yang baru, bahkan musalla yang dulunya hanya satu lantai kini telah siap dibangun kembali dengan dua lantai. Demikian halnya dengan asrama santri. Kini ditanah bekas asrama yang terbakar, juga telah dibangun kembali asrama dua lantai dengan total 30 pintu. 

suasana mengulang pelajaran di malam hari
Walau bangunan tersebut masih berkonstruksi kayu, tetapi lumayan layak untuk dihuni. Sehingga total asrama yang dimiliki dayah saat ini mencapai 42 pintu dengan ukuran bervariasi. Disamping itu, saat ini juga sedang dibangun satu gang asrama yang direncanakan 3 lantai dengan total 38 pintu untuk asrama dan selebihnya untuk ruang belajar. Selain itu, dayah Babussalam Al-Aziziyah sekarang juga sedang merintis diri untuk menjadi model “Dayah Bersih” di Aceh. Dengan slogan “Babussalam Bersih, Rapi, Suci Lahir dan Batin”, berbagai fasilitas untuk itu juga sedang digarap. Antara lain pemasangan paving blok dan keramik dihampir seluruh pelataran dayah, penataan asrama dan pembenahan MCK.
 [next]
DAYAH MULTIMEDIA

Dayah Babussalam Al-Aziziyah kini juga menjadi central Dayah Multimedia Aceh (DMA). Dayah Multimedia ini adalah wadah untuk mentrasnformasi ilmu agama kepada masyarakat luas melalui berbagai media. Salah satu media yang kini sudah dibangun adalah media Radio. Di awal tahun 2014, radio yang bernama “Radio Yadara FM, 92,8MHz telah mengudara. Selain itu dayah Babussalam Al-Aziziyah juga menjadi central Yayasan Dayah Bersaudara (Yadara). Yadara ini sendiri merupakan wadah dayah-dayah di Aceh untuk mewujudkan ekonomi dayah yang mandiri.

Yayasan yang berslogan “membangun ekonomi umat melalui ekonomi jaringan” ini, kini sudah memiliki beberapa aset. Antara lain sebuah pabrik air mineral dibawah CV. Ie Yadara yang berlokasi di Bate Iliek, Samalanga. 


suasana di kantor penyiaran Radio dayah Babus Salam

Related

Profile Pesantren 1910903838096157447

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item