umdah

Muktamar NU Sebagai Pemersatu

Muktamar NU ke-33 telah dimulai, PWNU Jawa Timur selaku tuan rumah Muktamar NU ke-33 begitu serius dalam melaksanakan amanah sebagai tuan rumah Muktamar NU 33, juga tak kalah, kota Jombang sebagai venue Muktamar 33 berhias indah nan rapi berantusias menyambut para Muktamirin (baca: peserta Muktamar). Acara lima tahunan ini dimulai dari tanggal 1 Agustus dan akan berakhir pada tanggal 5 Agustus nanti.

Muktamar NU
Banyak hal yang dibahas dalam Muktamar NU kali ini, mulai dari pembicaraan tentang pemilihan ketua tanfidziyah NU, pemilihan Rais Aam NU, juga tak kalah ramai pembicaraan tentang sistem pemilihan ketua kali ini yang berbeda dengan sistem pemilihan pada Muktamar NU 32 di Makasaar. Ramainya pembicaraan tentang Muktamar dan segala isinya ini, menjadi bukti akan apresisasi dan perhatian masyarakat pada NU.

Acara Mukatamar yang begitu banyak menuai perhatian masyarakat, harus benar-benar dimanfaatkan keberlangsunganya. Terutama untuk menanggulangi konflik intern dalam kubu NU itu sendiri. Seperti Salah satu problem kaum Nahdiyyin akhir-akhir ini adalah sulit merawat persatuan dalam ber-NU. Ketidak bersatuan atau perpecahan dan konflik lainya, pada kenyataanya membawa resiko yang cukup besar, dan resiko inilah yang harus segera disadari dan dihindari. Bukan malah memelihara perseteruan yang ada dan berusaha untuk menang dari kelompok yang dianggap salah. 

Dengan ber-NU kita sudah bersatu, satu dalam aqidah dengan mengikuti madzhab Asyari, satu dalam ber-fiqh dengan mengikuti madzhab syafi'i, satu dalam ber-amaliyah, satu dalam bertasawwuf dengan mengikuti imam Alghazali, bahkan bersatu dalam berseragam. Akan tetapi persatuan yang sebenarnya dibutuhkan juga persatuan dalam Visi & Misi, cita-cita bahkan bersatu dalam beridealisme.
[next]
Membangun persatuan yang kokoh dan tepelihara ternyata tidak mudah. Ribuan orang di Indonesia mengaku cinta terhadap NU, mencintai kyai-kyai NU, identik tehadap amalan -amalan NU dan segala bentuk kegiatan NU. Sungguh indah. Apalagi mereka yang gemar dan senang ketika melihat simbol-siimbol NU, juga gemar menyimpan foto-foto ulama NU. Namun demikian, disadari atau tidak, tetap saja kebersatuan dalam banyak hal belum membuat mereka berdiri bersama dengan kokoh.

Begitu mudah warga NU berkumpul tatkala diundang untuk acara tahlil, tanpa surat undangan resmi, hanya bermodal bedug masjid atau pemberitaan dari person ke person warga Nahdiyyin sudah bisa berkumpul bersama. Begitu pula dalam acara-acara lainya seperti pembacaan manaqib atau acara khatamil quran, sangat mudah untuk mengumpulkan waraga Nahdiyyin. Tapi jika melihat ke lembaga pendidikan Almaarif milik NU misalnya, mereka yang tadinya begitu mudah berkumpul seakan lupa cara untuk bersatu dalam hal ini, padahal jika melihat kualitas pendidikan yang ada di lembaga pendidikan Almaarif NU tak kalah menterengnya dengan sekolah negeri unggulan lainya. hal yang sama juga terjadi pada universitas-universitas dibawah kendali NU.

Hal demikian tersebut itu, adalah lebih-lebih dalam politik. Tentu sebenarnya hal itu tidak mengapa, akan tetapi terasa bahwa warga NU belum benar-benar bisa bersatu. Sementara ini, prestasi yang dihasilkan baru pada tingkat berhasil bisa bersama-sama.

Jika persatuan dalam ber-NU juga terealisasi dalam bidang pendidikan, bidang politik, bidang kerjasama sosial dan lain-lain, maka tak diragukan lagi akan muncul kekuatan yang besar dari kesejahteraan yang selama ini diharapkan. Misalnya, tatkala NU telah memiliki lembaga pendidikan atau perguruan tinggi, maka warga NU juga mengagendakan untuk memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan tersebut. Generasi muda NU akan memperoleh pendidikan yang dikonsep oleh NU. Tidak seperti yang terjadi sekarang, sekolah dan perguruan tinggi yang kurang dipercaya, padahal jika semua bersatu dan berjalan bersama akan ada kemajuan dan perkembangan yang pesat.
[next]
Maka marilah. melalui momen Muktamar NU 33, kita satukan kembali visi misi dan cita-cita NU dengan cara ber-NU tidak hanya seragamnya tapi juga cita-cita dan visi & misi bahkan idealsime. kita kembali bersatu di bawah ajaran dan khittah yang telah digariskan sesepuh NU.


Oleh : Choirul Anam Mahasiswa Fakultas Syariah, Imam Shafie College, Hadhramaut - Yaman.

Related

Opini 3124570104698528061

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item