umdah

Biografi Ibnu Taimiyah al-Harrani dan Perkataan Ulama Terhadapnya

UMDAH- Tidak ada ulama yang lebih kontroversial daripada Ibnu Taimiyah. Telah banyak isu dan kabar yang sampai kepada kita tentang bagaimana dan siapa sebenarnya Ibnu Taimiyah itu. Namun diantara banyak tulisan dan kabar, tidak sedikit yang tidak sesuai dengan kebenarannya. Banyak riwayat tentangnya, yang oleh sebagian orang, dipoles sedemikian rupa sehingga ia menjelma melebihi ulama manapun. Menduduki posisi tertinggi, sehingga dengan itu ia dijuluki Syaikhul Islam.

 Ibnu Taimiyah al-Harrani

Sedangkan bagi sekolompok orang yang lain, yaitu mayoritas ulama, malah menyebut ia termasuk orang yang sesat dan terperosok dalam kebinasaan. Mungkin kita bingung, kabar dan riwayat manakah yang harus kita pedomani? Agar Anda tidak salah persepsi, bacalah sampai tuntas tulisan di bawah ini.

Biografi Ibnu Taimiyah

Namanya adalah Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani atau yang biasa disebut dengan nama Ibnu Taimiyah, (lahir: 22 Januari 1263/10 Rabiul Awwal 661 H – meninggal: 1328/20 Dzulhijjah 728 H), ia berasal dari Harran, Turki.

Perkataan ulama tentang Ibnu Taimiyah:

 الحافظ السخاوي في كتابه الضوء اللامع في أعيان القرن السابع يقول بأن الفقيه الحنفي علاء الدين البخاري قال : من سمّى ابن تيمية شيخ الاسلام فهو كافر ( أي الذي يعرف من هو ابن تيمية ويعرف ضلالاته ثم قال عنه شيخ الاسلام هذا يكفر .) 

“Siapa yang menyebutkan ibnu taimiyah dengan Syaikhul islam maka ia telah KAFIR! Artinya, ia telah mengetahui siapa itu Ibnu taimiyah, dan mengetahui pula kesesatannya.

Didalam kitabya yang berjudul ( الدرر الكاملة ) betapa seriusnya Imam Ibnu Hajar mengomentari Ibnu Taymiyah yang telah meremehkan dan menghina sahabat yang mulia, padahal mereka telah diberi kabar gembira dengan surga..

ذكر الحافظ ابن حجر العسقلاني – أن العلماء نسبوا ابن تيمية إلى النفاق لقوله في علي كرم الله وجه ما يأتي : * إن عليا أخطأ في سبعة عشر شيئا خالف فيها النص .( الدرر الكاملة 1/155 

“Telah menceritakan Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani ” Sesunguhnya Para Ulama Telah menisbatkan (MENYEBUT) Ibnu Taymiyyah kepada (GOLONGAN) orang-orang munafiq karena ucapanya (Ibnu Taymiyyah) atas Ali “Sesungguhnya Ali telah Salah di 17 perkara yang bertentangan dengan nas (Al-Qur’an“ )

قال الحافظ في الدرر الكامنة(1/154) إن ابن تيمية خطأ عمر في شيء . وقال أيضا : إن عثمان كان يحب المال (1/155

“Ibnu Taymiyyah menyalahkan Umar dalah suatu perkara…dan berkata Ibnu Taymiyyah pula “Sesungguhnya Usman mencintai Harta“

وعلي أسلم صبيا والصبي لايصح إسلامه على قول

“Dan Ali telah Islam ketika dia kecil..Dan Anak Kecil itu tidak sah Islamnya.“

وقال إبن تيمية بأن علي بن أبي طالب قاتل من أجل الرياسة لا من أجل الديانة

“Dan telah berkata Ibnu Taymiyyah Bahwa Ali berperang untuk kekuasaan/jabatan bukan untuk Agama.“

Ibnu Taimiyyah Berkata : Dalam kitab Talbis Jahmiyah..Juz 1 halaman 101

وقال في كتابه بيان تلبيس الجهمية (1/101) ما نصه : “وليس في كتاب الله ولا سنة رسوله ولا قول أحد من سلف الأمة وأئمتها أنه ليس بجسم، 

“Dan tidak ada di dalam kitab Allah, sunnah Rasulnya dan juga satu ungkapan orang-orang Salaf dan para imamnya, bahwasanya Allah itu bukan Jisim. Ibnu Taimiyyah berpendapat Allah itu Jisim..“ Juga masih di kitab ini Ibnu Taymiyyah berkata masalah sifat wujud bagi Allah:

وان الموجود القائم بنفسه لايكون الا جسما وما لايكون جسما لايكون الا معدوما ومن المعلوم ان هذا اقرب الى الفطرة والعقول

"Dan yang maujud binafsihi (Allah) itu tidak ada kecuali dalam bentuk jisim. Sesuatu yang tidak berjisim itu berarti ia tidak ada. Dan dapat diketahui, bahwa pendapat ini lebih dekat dengan kefitrahan (sucian) dan masuk Akal".
 
PADAHAL: Mengenai mayoritas ulama telah berkata
[next]
Telah berkata Imam Syafi’i (RA):

قال الإمام الشافعي رحمه الله : (من قال أن الله جسم لا كالأجسام كفر) من الأشباه والنظائر للسيوطي 

“Barang siapa yang berkata sesungguhnya Allah itu "jisim", bukan "seperti jisim", maka dia telah kafir.. (dari kitab Ashbah Wa Nadzair )”

وجاء عند ابن حجر الحافظ بترجمته: «… فذكروا أنّه ذكر حديث النزول فنزل عن المنبر درجتين فقال: كنزولي هذا. فنسب إلى التجسيم») الدرر الكامنة ـ الترجمة 409، أحمد بن عبد الحليم بن عبد السلام 1/154 

“Dan telah menceritakan ulama-ulama sesungguhnya Ibnu Taymiyyah ketika menerangkan hadits nuzu, turunlah Ibnu Taymiyyah dari mimbar dua derajat dan berkata Ibnu Taymiyyah: "Seperti turunnya aku ini” maka disebutlah dia sebagai MUJASSIM (Orang yang berpendapat Allah itu berbentuk)".

GELAR ULAMA KEPADA IBNU TAIMIYAH

1# Para ulama telah memberi gelar Ibnu Taymiyyah dengan tajsim berdasarkan apa yang telah ia tulis di dalam kitabnya “al-Aqidah al-Wasithiyah, al-Hamawiyah” dan lain-lainnya. Sebagai contoh, ia berpendapat bahwa tangan, kaki, betis dan wajah adalah sifat-sifat hakikat bagi Allah Ta’ala, Allah beristiwa’ diatas ‘arasy dengan zat-Nya..”

Imam Ibnu Hajar menambahkan:

“Dia dihukum dengan munafiq karena perkataannya (kritikan) terhadap Sayidina Ali". Katanya lagi:
“Ibnu Taimiyah juga dihukum zindiq karena berpendapat bahwa tidak boleh ber-isthighatsah (meminta pertolongan) kepada Allah melalui perantara Nabi Muhammad saw”

Di dalam kitab Fath al-Bari, m.s. 66, jld. 3 pula, beliau menegaskan:

“…Hasilnya, mereka telah berpegang dengan pendapat Ibnu Taymiyyah tentang haramnya bermusafir untuk menziarahi maqam Rasulullah saw dan kami mengingkarinya. Inilah seburuk-buruk masalah yang dinuqilkan daripada Ibn Taimiyah.”

2# Imam al-Hafiz al-Zahabi berkata di dalam kitabnya Zaghl al-Ilmu, m.s. 23 (ulasan oleh Imam al-Kauthari, dicetak oleh percetakan al-Taufiq 1347H, Damsyik): “Sesungguhnya aku telah melihat sesuatu yang telah menimpa Ibnu Taymiyyah. Beliau telah disingkir, dihukum sesat dan kafir serta tidak dipercayai antara kebenaran dengan kebatilan. Sebelum beliau menceburi bidang ini (falsafah), beliau merupakan cahaya yang menerangi kehidupan, lebih-lebih lagi tentang al-Salafnya. Kemudian cahayanya itu menjadi gelap gulita..”

3# Imam Taqiyuddin al-Husni (pengarang kitab Kifayah al-Akhyar) berkata di dalam kitabnya “Daf’u Syabah man Syabbaha wa Tamarrad”, m.s. 123, (cetakan Isa al-Baabi al-Halabi) berbunyi: “Syeikh Zainuddin Ibn Rajab al-Hanbali adalah salah seorang daripada ulama’ yang menghukum kafir Ibn Taimiyah. Dia mempunyai penolakan terhadap Ibn Taimiyah. Dia juga pernah mengangkat suara dengan keras mengkufurkan Ibnu Taymiyyah di dalam beberapa majelisnya. Di samping itu, Imam al-Subki juga mempunyai hujjah untuk mengkufurkannya..” Pada halaman yang lain, beliau mengatakan: “Banyak masalah-masalah yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah menyimpang dari kebenaran.”

4# Imam al-Subki berkata di dalam kitabnya “al-Durrar al-Madiyah fi Raddi ‘ala Ibnu Taimiyah: “Semua perkataan Ibnu Taimiyah diatas tadi berkenaan dengan masalah usul (dasar agama), merupakan kekufuran yang amat jelas disamping banyak lagi masalah cabang yang lain.” Lihat al-Taufiq al-Rabbani karangan Jama’ah ulama’, m.s. 31.

5# Imam Ibn Hajar al-Haitami berkata di dalam kitabnya “al-Fatawa al-Haditsiyah” berbunyi: “Ibnu Taymiyyah ialah seorg hamba yang dikecewakan oleh Allah, disesatkan-Nya, dibodohkan-Nya, dibutakan-Nya dan dihina-Nya. dengan alasan inilah para ulama’ tampil untuk menjelaskan betapa rusak keadaannya dan betapa dusta perkataannya. siapa yang ingin mengetahui keadaan ini, maka hendaklah mengkaji perkataan Imam al-Mujtahid yang disepakati keimamannya yaitu Abi Hasan al-Subki, anaknya al-Taj al-Subki, Syeikh al-Imam al-I’z Ibn Jama’ah dan para ulama’ lain yang sezaman dengan mereka yang terdiri daripada al-Syafi’iyah, al-Malikiyah dan al-Hanafiyah.”
[next]
6# Imam Waliyuddin al-Iraqi berkata di dalam kitabnya “al-Ajubah al-Mardiyah an al-A’silah al-Makkiyah” berikut: "Syaikh Ibnu Taymiyyah sebagaimana yang diketahui, ilmunya mengatasi akalnya. Keadaan ini membawanya kepada ijtihad yang menyelisihi ijma’ dalam banyak masalah. Dikatakan mencapai 60 masalah.”

“Dengan masalah tersebut, banyak orang mengatakan tentang dirinya, mencela dan mengujinya. Para ulama’ yang sezaman dengannya juga segera tampil menolak pendapat Ibnu Taymiyah, menjelaskan kepincangannya dan membid’ahkannya.” Beliau mati di dalam penjara karena perbuatannya itu.

Para pendukung Ibnu Taymiyyah menganggap bahwa beliau adalah termasuk seorang ulama’ yang mengatakan dengan tegas bahwa tidak ada kemudharatan sekiranya terdapat perselisihan pendapat di dalam masalah furu’ jika perkara itu dihasilkan dari Ijtihad. Tetapi orang yang berselisih pendapat dengan beliau mengatakan bahwa beliau bukan saja berselisih pendapat di dalam masalah furu’, bahkan banyak lagi masalah-masalah usul (akidah) yang bertentangan dengan pendapatnya. Dan tidak semua perkara furu’ boleh diselisihi apabila telah disepakati oleh para ulama’.

7# Imam al-Kattani juga mengatakan di dalam kitab “Fahras al-Faharis”, m.s. 201-2, jld. 1, mengatakan: “Seburuk-buruk dan sejahat-jahat apa yang dinuqilkan oleh Ibnu Taymiyyah ialah perkataannya terhadap hadits “Tuhan turun pada kita satu pertiga malam.. seperti turunnya aku ini."

8# Imam Ahmad Muhammad al-Siddiq al-Ghumari di dalam kitabnya “Ali al-Imam al-’Arifin” menjelaskan sedikit sebanyak kedangkalan pendapat Ibnu Taymiyyah terhadap Sayyidina Ali r.a.

Pada m.s. 55, beliau menegaskan dengan katanya:

“Apa yang telah dijelaskan oleh Ibnu Taymiyyah terhadap Sayyidina Ali r.a itu menunjukkan bahwa beliau seorang ketua munafiq pada zamannya. ”Hal ini terbukti mengikut apa yang dijelaskan oleh Baginda saw kepada Ali r.hu di dalam satu hadits sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, maksudnya: “Tidak ada orang yang menyintaimu melainkan dia seorang yang beriman. Tidak ada yang membencimu melainkan dia seorang munafiq.”

9# Imam al-Kauthari di dalam kitab “Maqalat” m.s. 35 mensifatkan bahwa Ibnu Taymiyyah adalah seorang pengikut Ibn Malikan, ahli falsafah yahudi. Apabila beliau (Ibn Taimiyah) menisbahkan suara kepada Allah Swt dan pendapatnya yang mengatakan menjelmakanya benda-benda yang baharu pada zat Allah Swt. Pada m.s. 241 pula, beliau mengkritik tindakan Ibnu Taymiyyah yang menuqilkan hasil-hasil penulisan al-Mujassimah ke dalam kitabnya. Pada m.s. 242 beliau mengemukakan beberapa contoh nuqilan Ibnu Taymiyyah yang menunjukkan kepada aqidah al-Tasybih.

10# Syaikh Mansur ‘Awais pula menyifatkan pendapat Ibnu Taymiyyahini lebih cenderung kepada tajsim. Sebagai contoh, di dalam kitabnya “Ibn Taimiyah Laisa Salafiyan” (Ibn Taimiyah bukanlah seorang Salafi, m.s. 216), beliau secara tegas mengemukakan satu bab yang khusus berjudul “Ibn Taimiyah menuju ke arah tajsim.”

Sebenarnya banyak lagi pendapat ulama’ dan hukuman yang dikenakan di atas Ibnu Taimiyah, dimana tidak ada seorang pun ulama yang begitu banyak diselisihi oleh jumhur ulama seluruh dunia. Tetapi, sudah memadai dengan beberapa ucapan yang jelas daripada ulama’ yang mu’tabar. Penjelasan Sultan Qolaawoon, perbicaraannya dengan ulama’ di mahkamah sehingga beliau dihukum penjara, fatwanya tentang talak, serta fatwa dari para fuqaha madzhab yang empat cukup untuk membuktikan kepada kita tentang kontroversi kesesatannya.
[next]
Tentunya dengan artikel ini, Biografi Ibnu Taimiyah al-Harrani, kita dapat lebih arif dalam mengikuti seorang ulama. Sudah sepantasnya kita mengikuti apa yang telah disepakati oleh jumhur ulama, dan menjauhi apa yang diselisihi oleh mereka. Wallahu a'lam

Related

Kisah 3374235026695349938

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item