umdah

Apa itu Hakikat Shalat?

Apabila shalat dikerjakan dengan sebenar-benarnya, maka hakikat sembahyang itu akan timbul secara nyata bagi yang mengerjakannya. Bagaimana hakikat sembahyang yang betul-betul dikerjakan itu?? Almukarram, syaikh Ibnu Attaillah pernah mengatakan dalam kalam hikmahnya sebagai berikut:

"Assalatu tuhratun lil quluub'i min adnasi dzunubi, wa istiftahi li baabil guyuub"

"Shalat merupakan penyuci bagi hati manusia dari segala kotoran-kotoran dosa, dan pembuka baginya segala pitu-pintu gaib."

Penjelasan dari kalam hikmah di atas adalah sebagai berikut;

1#  Bahwa hakikat shalat itu apabila dikerjakan dengan betul, baik dan sempurna, maka shalat itu akan menyucikan hati kita dari berbagai macam kotoran dosa dan dari segala sifat yang membuat hati kita jauh dari Allah.

Rasulullah saw telah bersabda dalam hadis riwayat Muslim ra yang artinya:

"Perumpamaan shalat lima waktu itu laksana sebuah sungai yang tawar airnya, dimana sungai itu meluap-luap di pintu salah seorang kamu yang mandi di dalamnya setiap hari sebanyak lima kali. Apa pendapatmu tentang orang tersebut? Apakah masih ada daki-daki di badannya? Mereka para sahabat menjawab, "Tidak sesuatu pun ya Rasulullah! Sabda Rasulullah s.a.w. Sesungguhnya shalat itu dapat menhilangkan dosa-dosa sebagaimana air dapat menghilangkan kotoran.’’

Apa itu Hakikat Shalat?
Hadis ini mengambarkan bahwa apabila segala dausa telah dapat dibersihkan dengen sembahyang yang di kerjakan dengen sebaik-baiknya, maka pastilah hati kita akan bersih dari kotoran-kotoran nya. Sebab segala ucapan dan bacaan-bacaan yang kita baca dalam sembahyang akan mendekatkan hati dan perasaan kita kepada Allah yang maha kuasa, karena itu pelajari dan dalami lah setiap bacaan-bacaan dalam shalat.
[next]
2# Sembahyang juga merupakan kunci pembuka pintu-pintu segala yang gaib berupa ilmu-ilmu ladunni, yakni ilmu yang bersumber dari keimanan dan keyakinan. Ilmu itu merupakan rahasia yang datang dari Allah swt jadi apabila segala dosa sudah dapat dibersihkan dengan shalat, maka ia akan dapat menimbulkan hati yang suci dan bersih, dan akan terbukalah pintu hati untuk menerima rahasia-rahasia ketuhanan. Sebab wadah untuk demikian telah tersedia dengan bersih dan suci. Itulah yang menyebabkan bahwa hakikat shalat adalah tingkat kedua setelah hakikat Tauhid. Sebab hakikat shalat berarti sebagai jalan untuk mendapatkan dan memperoleh ilmu ma'rifat yang terkandung dalam hakikat Tauhid, laksana laut yang sangat dalam yang tidak ada pantainya.

Oleh sebab itu dalam satu hadits dimana Imam Ghazali telah menuliskan dalam kitabnya, Ihya Ulumiddin, Rasulullah s.a.w bersabda yang artinya:

''Tiada sesuatu yang diwajibkan Allah kepada hambaNya sesudah Tauhid yang lebih disukai-Nya selain salat. Seandainya ada sesuatu yang lain (selain shalat) yang lebih menyukakan hati kepadaNya maka para malaikat telah terlebih dahulu beribadat dengan sesuatu itu. Karena para malaikat ada sebagian dari mareka yang rukuk saja, sebagian yang lain sujud saja, dan sebagian yang lain lagi hanya berdiri ,dan bahkan ada yang duduk.

Hadis ini terang dan jelas menunjukkan bagaimana mulianya shalat setelah Tauhid di sisi Alla s.w.t. Sebab dalam hadits ini Rasulullah telah menjelaskan ibadah para malaikat yang pada umumnya mareka disibukkan dengan sembahyang. Walau ada sebagian dari mereka yang duduk saja, atau berdiri saja ,atau rukuk saja, namun semua perbuatan mareka ini adalah cara khas dari sembahyangnya para malaikat Allah s.w.t.

Jadi apabila kita rajin shalat serta mengerjakannya dengan sesungguh hati, baik, serius dan sempurna, maka sembahyang adalah jalan untuk menerangkan hati kita untuk menerima ilmu pengetahuan. Karena itu yakinlah dan jangan ragu-ragu lagi, bahwa disamping sembahyang itu banyak faedahnya sebagai mana telah tersebut diatas, juga ada hikmatnya untuk memudahkan mencapai rezeki-rezeki yang halal dari Allah s.w.t. Artinya usaha kita dalam mencapai rezeki yang halal akan dimudahkan Allah dan diberkati-Nya apabila kita rajin sembahyang.

Itulah sebabnya Al-Ghazali munukilkan sabda nabi Muhammad s.a.w. sebagai berikut;

"Wahai Abu Hurairah! Perintahkanlah keluargamu untuk mengerjakan sembahyang, karena sesungguhny Allah akan mendatangkan kepada Anda rezeki-Nya dari (sumber-sumber dan jalan-jalan ) diluar dugaan Anda."

Hadits ini dan hadis-hadis sebelumnya menggambarkan tentang kelebihan sembahyang. Itulah sebabnya sebagian ulama menyamakan orang yang sembahyang dengan pedagang. Mereka berkata: "Orang yang mengerjakan shalat adalah umpama saudagar yang belum memperoleh keuntungan sebelum pokoknya betul-betul bersih dan kembali."

Jadi apabila pokok perdagangan tidak rugi sepeser pun berarti perdagangan itu telah beruntung, apalagi  untung terlihat nyata. Alangkah bahagianya orang yang mengerjakan shalat secara lahir dan bathin. Inshallah segala nikmat dan faeedah di atas akan diperoleh dengan izin Allah s.w.t.

Itulah kesimpulan yang jelas dan terang dari kalam hikmah ini.

Related

tashauf. 6821029811848799247

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item