umdah

SEPENGGAL HATI SEORANG PENGHAFIDH

Cerbung... Season II Langkahku telah rapuh Hatiku telah goyah karena keindahan Cintaku telah terbagi dari yang sebenarnya hak Rinduku...

Cerbung...

Season II

Langkahku telah rapuh
Hatiku telah goyah karena keindahan
Cintaku telah terbagi dari yang sebenarnya hak
Rinduku telah terbuai untuk sang bidadari duniawi...
Al-Farisi bukanlah seorang pujangga, namun kata-kata puitis itu telah tergoreskan dalam catatan hariannya. Keluh kesah, derita, harapan, senang, cita-cita dan cinta telah diukir laksana pemyair yang selalu memberikan puisi-puisi indah.


Hafifah... seorang gadis muslimah yang telah memikat hati al-Farisi. Ribuyan kata yang dia sembunyikan tampak seolah dialah penjihat, penghafidh yang telah menguasai lembaran-lembaran kalam Allah. Namun sepenggal hatinya kini harus direlakan untuk selain sang Khaliq. Astaghfirullah...
Dua minggu sudah al-Farisi terbaring di rumah sakit. Penyakit yang dialaminya telah menyita waktunya untuk menghafal kalam-kalam Allah. Rasa rindu terhadap adik tercinta tak sanggup dibendungnya. Sudah lama wajah mungil itu tak bersinar di hari-harinya. Terakhir kali al-Farisi mendengar kabar tentang Zahara dan sahabat barunya yang bernama Balqist.
**
Bulir-bulir air bening yang bersangkutan di dedaunan, menambah kesejukan dari indahnya panorama di pagi ini. Jam 08.00 WIB, al-Farisi dibolehkan pulang karena kondisinya sudah mulai membaik. Seminggu setelah al-Farisi keluar dari rumah sakit, Ummi mengajaknya ke Jawa untuk menjenguk Zahara. Perasaannya tak mampu tergambarkan, terlihat jelas senyum senang dari bibirnya.
Sewaktu dalam perjalanan menuju ke rumah pamannya, al-Farisi sangat berharap bisa bertemu dengan Hafifah.
“Ya Allah... mungkinkah aku bertemu dengannya? Allahu akbar... Kenapa aku ini.!!”
“Alfa...,” panggilan Ummi mengejutkannya.
“Astaghfirullah, Ummi... ada apa?”
“Kamu kenapa , Nak?” tanya Ummi Sholeha.
“Tidak apa-apa Ummi, Alfa Cuma tidak sabar saja ingin segera bertemu dengan Zahara!!!”, jawab al-Farisi segera melayangkan pandangannya ke luar jendela mobil. Tinggal menghitung menit, al-Farisi dan Umminya akan tiba di Jawa.
Setiba di sana. Al-Farisi dan Umminya segera memasuki rumah pamannya. Tanpa memberitahu Zahara terlebih dulu. Paman Hafidh lalu memanggil Zahara untuk memasuki rumahnya.
“Paman, tadi paman panggil Zahara? Ada apa?”, tanya Zahara, tidak biasanya dia dipanggil langsung oleh pamannya, namun sang paman hanya terdiam sambil tersenyum.
“Paman bikin Zahara penasaran saja!!” cetus Zahara
“Ya sudah, Zahara masuk saja dulu!!!”
Dengan wajah lugunya, Zahara langsung memasuki rumah pamannya. Tiba-tiba matanya ditutup oleh sepasang tangan yang muncul dari belakangnya. Zahara terkejut dan mengeluarkan jurus omelannya.
“Siapa sih ini, berani Cuma dari belakang!!!”
“Tebak saja sendiri.” Mendengar suara yang tak asing lagi di telinganya. Langsung dia menoleh ke belakang.
“Akhi!!!,” Zahara segera memeluk al-Farisi.
“Gimana kabar Zahara?”
“Alhamdulillah, Akhi sendiri gimana kabarnya, sudah sembuh kan?”
“Alhamdulillah seperti yang Zahara lihat sekarang, akhi sehat-sehat saja.”
“Ummi kenapa nggak ditanya kabarnya?” tiba-tiba Ummi Sholeha mengejutkan mereka berdua. Zahara segera mencium tangan umminya dan memeluknya dengan rasa gembira.
“Ummi sama akhi kok nggak bilang-bilang mau kemari?”
“Kalu dibilang nanti nggak suprize lagi dong!!!” jawab al-Farisi dengan candanya.
Suasana saat itu sangat teduh, ceria dan gembira. Rasa-rasanya tak ingin berlalu begitu saja. Zahara mengajak al-Farisi berkeliling pondok. Dia juga memperkenalkan Balqist kepada al-Farisi, sahabat barunya yang pernah diceritakan sebelumnya kepada al-Farisi lewat telepon.
“Balqist, ini akhi Alfa!!!”
“Oo.. ini yang namanya akhi Alfa!!g ganteng ya!!!” Balqist menyunggingkan senyumnya kepada al-Farisi
“Balqist..., biasa aja dong!!!” cetus Zahara.
“Zahara, Balqist, akhi Alfa ke mushalla dulu ya!!”
“”Iya”, jawab Zahara dan Balqist serentak.
Al-Farisi melangkah kakinya meninggalkan Zahara dan Balqist menuju mushalla.
Selesai mengambil wudhu’, al-Farisi menunaikan sholat Ashar. Setelah sholat Ashar, dia pun beranjak dari mushalla. Tiba-tiba saja wajah Hafifah terlintas dalam benaknya, terbayang saat pertama dia bertemu dengan Hafifah. Saat Hafifah memperkenalkan diri kepadanya.
“Astaghfirullah...”, al-Farisi mengusap muka dengan kedua tangannya.
Terdengar suara yang tidak begitu jauh darinya. Al-Farisi bergegas keluar.
“Hafifah!!!” gumamnya.
Al-Farisi tertunduk membisu, “ternyata gadis itu bukan Hafifah , ya Tuhan..., kenapa aku begitu berharap untuk bisa bertemu dengannya!!”
Dengan rasa kecewa al-Farisi kembali ke rumah pamannya. Namun, di pertengahan jalan, al-Farisi berhenti dan duduk di sebuah bangku panjang yang ada di bawah pepohonan. Dia membuka mushaf kecil pemberian Abinya, lalu mencoba menghafalnya. Tak lama kemudian, Zahara menghampiri al-Farisi.
“Akhi..., akhi kenapa? Kelihatannya akhi lagi sedih..”
Al-Farisi memandangi Zahara dan tersenyum.
“Akhi nggak ap-apa kok,.. akhi Cuma...!!”
“Cuma apa?” Zahara seperti memaksanya untuk mengatakan apa yang sedang dialaminya.
“Akhi lagi teringat sama seseorang!!” jawab al-Farisi singkat.
“Zahara boleh tau orang itu sisapa?”
“Zahara nggak bakalan kenal pun kalau akhi bilang, ahi baru sekali jumpa sama dia...!!”
“Cewek?” tanya Zahara.
Al-Farisi mengangguk. “ Namanya Hafifah, katanya dia ada adik di pesantren ini!!” jelas al-Farisi
“Nama adiknya siapa?”
“Akhi nggak tau, kemarin itu akhi juga nggak jelas lihat wajah adiknya.”
“Ya sudah, kita balik saja ya!!” ajak al-Farisi. Mereka pun berjalan beriringan sambil membahas tentang Hafifah. Ternyata gadis itu benar-benar telah memikat hati al-Farisi.
Sepulangnya al-Farisi dan ummi Sholeha dari Jawa, Zahara mencoba mencari kabar tentang Hafifah, meskipun dia tidak tau bagaimana cara untuk bertemu dengan Hafifah, namun dia tetap berusaha. Mungkin saja Allah akan mengabulkan permintaannya. Selesai shalat subuh, Zahara melihat Balqist sedang sibuk merapikan lemari.
“Balqist, ana bantu ya!!” kata Zahara.
“Boleh...”
Zahara pun ikut membantu merapikan lemari Balqist. Terlihat album berukuran mini di dalam lemari bagian bawah, Zahara memandang Balqist dengan maksud meminta izin untuk membuka album itu. Zahara membuka lembaran album itu satu demi satu.
“Ini foto keluarga ya?” tanya Zahara sambil menunjuk ke arah sebuah foto.
“Iya .” jawab Balqist. Zahara mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Kalau ini, siapa?”
“Itu kakak ana, katanya sih mau ke sini besok, besok ana kenalin sama anti ya!!” seru Balqist.
Zahara tersenyum manis.
Keesokan, Balqist memperkenalkan kakaknya kepada Zahara. Zahara tertegun melihatnya.
“balqist.., kakak anti cantik ya!!” puji Zahara malu-malu.
“Ifah...Hafifah...” mendengar panggilan itu , Zahara segera memalingkan wajahnya ke arah pemilik suara itu. Terlihat seorang perempuan memandang ke arah mereka bertiga. Teringat dengan sebuah nama yang pernah disebutkan oleh akhinya, Al-Farisi.
“Hafifah ...” ucap Zahara dalam hati.
“Ukhti.. dipanggil tu sama ummi..” kata Balqist dengan nada cuek. Zahara terdiam sambil terus memandang Hafifah yang berlalu di hadapannya. Balqist pun ikut pergi, dia hendak menemui umminya bersama kakaknya. Namun Zahara menahannya dengan menarik tangan Balqist.
“Zahara.. kenapa?? Anti mau ikut??” cetus Balqist.
“Ehmm..ehmm...” Zahara tersa berat untuk mengeluarkan kata-kata.
“Kalau anti nggak mau ikut, nggak apa-apa, ana Cuma pergi sebentar kok, nanti ana balik lagi ke sini.” Balqist pun meninggalan Zahara sendirian.
“Benarkah itu ukhti Hafifah yang diceritakan akhi Alfa??” gumamnya.
Zahara terpaku dalam kesendiriannya. Terlintas wajah Alfarisi yang begitu jelas.

Bersambung.....

Created By
Enny Mauliany (Een Annuzu)

Related

Santri 912127212265848995

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item