umdah

[Opini] Mencermati Fikih Giok

Atjeh Batee Festival yang digelar di Hermes Palace Hotel yang berlangsung pada tanggal 3-8 Februari 2015 telah berakhir. Kegiatan yang dilaksanakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh bersama Harian Serambi Indonesia dan Hermes Palace Hotel ini diikuti hampir 450 peserta yang berasal dari seluruh Aceh, Jakarta, dan provinsi lain (Serambi Indonesia, 09/02/2015).

fiqh giok

Namun, demam batu giok yang melanda masyarakat Serambi Mekkah belumlah berakhir bahkan telah menjalar pula kepada penduduk provinsi lainnya di Indonesia. Tidak sedikit yang menghikayahkan bahwa batu giok telah menjadi salah satu ragam pertanyaan yang ditujukan kepada orang Aceh bila berkunjung ke luar daerah sehingga tidak ada salahnya bila pada akhirnya menjadi cenderamata khas daerah Serambi Mekkah ini.

Berbagai jenis batu giok yang diperoleh dari perut bumi Aceh semakin menunjukkan kalau negeri ini masih menyimpan sejuta alternatif untuk meningkatkan denyut nadi perekonomian rakyatnya. Giok diburu bukan hanya karena sekedar kualitas keindahan, kekerasan ataupun kebeningan batunya. Akan tetapi sugesti terhadap ragam khasiat yang dimilikinya turut menjadikan giok sebagai batu mewah yang berharga sampai ratusan juta rupiah.

Berbagai macam tulisan dan opini pun berkembang menyikapi kegandrungan para pecinta batu giok. Ada yang mewanti-wanti bahwa batu giok dapat menyebabkan kesyirikan para penggunanya. Ada pula yang membahas kewajiban zakat para penambang ataupun pengusahanya. Tentunya, pola pikir demikian merupakan hal yang lumrah dalam paradigma sosial kemasyarakatan. Namun, menjustifikasi secara sepihak juga bukanlah sikap yang bijak.

Zakat Batu Giok

Ditinjau dari segi zakat, batugiok bisa dilihat dari dua sisi, zakat harta tambang dan zakat tijarah. Dari segiharta tambang, untuk mengetahui apakah batu giok bisa dikategorikan dalam harta tambang yang wajib dizakati ataupun tidak, marilah kita mencoba memperhatikan penjelasan para ulama Syafi’iyyah mengenai zakat harta tambang.

Imam al-Nawawi, salah satu mujtahid tarjih mazhab Syafi’idalam kitabnya, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa para ashab syafi’iyyah telah sepakat tentang harta tambang yang wajib dizakati hanyalah emas dan perak. Adapun barang tambang selain dari jenis emas dan perak seperti besi, tembaga, kristal, batu celak dan lainnya tidaklah diwajibkan zakat karena bukan termasuk dalam jenis harta yang wajib dizakati. Ini merupakan pendapat yang ada nash langsung dari Imam al-Syafi’i dalam kitab-kitabnya yang masyhur.

Memang, ada juga sebagian ulama Syafi’i meriwayatkan pendapat yang menyatakan tentang wajibnya zakat pada segala jenis barang tambang sebagaimana yang disebutkan oleh al-Darimi dalam kitabnya,Istidzkar bahwa Imam Ibnu Quttan mengatakan ada dua pendapat dari Imam Syafi’i tentang wajib atau tidaknya zakat barang tambang selain emas dan perak. Namun riwayat tersebut sangat lemah sehingga tidak bisa dijadikan sandaran karena menentang dengan mayoritas para ashab syafi’iyyah.

Dalil wajibnya zakat pada dua jenis tersebut adalah adanyaijma’ yang hanya mewajibkan pada jenis emas dan perak. Maka harta tambang yang wajib dizakati adalah emas dan perak saja kecuali bila ada dalil sharih yang mewajibkan selain keduanya.Beranjak dari hal tersebut, dapatlah kita simpulkan bahwa batugiok merupakan salah satu jenis barang tambang yang tidak wajib dizakati, karena zakat hanya terkhusus pada barang tambang yang jenisnya emas dan perak saja.

Kemudian ada beberapa hal yang juga perlu diperhatikan apabila hendak menghukumi apakah penjualan batu giok ini mewajibkan zakat atau tidak. Pertama, tijarah mempunyai pengertian sebagai suatu usaha perputaran harta yang dimiliki dengan bayaran (‘iwadh) untuk memperoleh laba.
Apabila barang yang dimiliki bukan dengan perantara ‘iwadh, misalnya dengan cara warisan, hibah, sedekah ataupun akad lainnnya yang tidak mengandung unsur ‘iwadh, kemudian dijadikan sebagai barang dagangan, maka hal ini tidak dianggap sebagai tijarah dalam istilah syara’. Tidak pula dianggap sebagai tijarah bila yang dijadikan barang dagangan adalah suatu benda dimana pemiliknya tidak meniatkannya sebagai tijarah. Jadi baru bisa dikategorikan sebagai harta tijarah adalah dagangan yang memenuhi dua kriteria, yaitu dimiliki dengan ‘iwadh, dan kedua, harus ada niat tijarah.

Kedua, harta tijarah termasuk sala hsatu dari banyaknya harta yang wajib dizakati. Namun kewajibannya tidak secara mutlak, akan tetapi terikat dengan beberapa syarat yang telah ditentukan oleh syara’, sama halnya dengan harta-harta zakat yang lain walaupun memiliki sedikit perbedaan, yaitu sampai nisab dan haul (sampai waktu kadar satu tahun). Inilah dua ketentuan yang disyaratkan untuk wajibnya zakat tijarah. Bila salah satu dari dua syarat tersebut tidak ada, kewajiban zakat pada harta tijarah akan gugur.

Pada kasus penjualan batu giok, bila dimiliki dengan cara pembelian yang diniatkan untuk dijual kembali guna memperoleh laba dan pada akhir tahun, jumlah keseluruhan hartanya mencapai nisab (sebanding dengan harga 96 gram emas) maka penjualan tersebut dikenakan wajib zakat tijarah sebanyak 2,5%.

Namun, bila tidak memiliki ketentuan-ketentuan tersebut, adakalanyatidak dimiliki dengan cara membeli misalnya, atau dibeli akan tetapi tidak untuk dijual kembali, atau sudah sampai nisab tapi belum sampai haul, ataupun sudah sampai satu tahun tapi tidak memiliki harga keseluruhan setara dengan 96 gram harga emas, maka batu giok tidaklah dikenakan wajib zakat tijarah.

Sugesti Giok

Selanjutnya salah satu hal yang banyak diperbincangkan oleh para penggemar batu giok adalah khasiat-khasiat yang dikandungnya dan tidak dapat dipungkiri bila kita pun ikut tergiur dengan kelebihan yang terdapat pada batu tersebut.

Namun, ada sebagian kalangan masyarakat yang berasumsi bahwa penggunaan batu giok dapat membawaki kepada syirik.Mungkin, asumsi semacam ini adalah salah satu bentuk sikap kehati-hatian dalam menyikapi khasiat yang terkandung dalam batu giok. Namun, pandangan tersebut juga perlu untuk dicermati secara bijak agar tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat akibat dari hipotesa sepihak semata.

Sebenarnya mempercayai khasiat pada batu cincin merupakan hal yang wajar-wajar saja dan sama sekali tidak menyalahi dengan aturan syari’at mengingat segala sesuatu yang Allah Swt ciptakan tentu menyimpan hikmah tersendiri tidak terkecuali pada batu giok.

Seseorang barulah dihukumi syirik apabila ia meyakini bahwa batu cincin tersebut mampu memberi bekasan tersendiri tanpa kekuatan Allah Swt.Ini sama halnya dengan meyakini bahwa yang membuat kita kenyang adalah makanan ataupun yang menyembuhkan sakit adalah dokter.

Bila hanya sebatas meyakini adanya khasiat pada batu giok, tapi yang memberi bekas tetaplah Allah Swt sebagaimana seorang pasien yang berobat ke dokter dantetap meyakini yang menyembuhkannya adalah Allah Swt, maka i’tikad seperti ini bukanlah perkara syirik dan tidak layak dihukumi kufur. Jadi asumsi sebagian kalangan yang menyimpulkan hanyakarena meyakini khasiat daribatu giok dapat membuat seseorang kufur adalah asumsi keliru dan tidak tepat.

Padahal yang semestinya perlu diperhatikan adalah larangan syara’ terhadap laki-laki untuk memakai cincin emas baik itu emas putih ataupun emas yang dicampur dengan bahan lainnya sehingga para pecinta batu giok tidak mengikatkan batunya dengan gagang emas.

Sebagai penutup, ketahuilah bahwa sesungguhnya umat Islam tidak perlu bersusah payah untuk memahami hukum-hukum syara’ karena Allah Swt telah memberikan solusi dalam firman-Nya : “...Fas-aluu ahladz-dzikri inkuntum laa ta’lamuun” (“...maka bertanyalah kepada para ulama jika kamu tidak mengetahui”). (QS. al-Nahl:43).Wallahua’lam bish-shawab.

Tgk. Khairul, Anggota Lajnah Bahtsul-Masail (LBM) LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga.
Facebook: aneukmudaatjeh




Related

Opini 2225412691098956987

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

populer

Arsip

Feature post

Ngaji Kitab Fathul Mu'in Edisi 02

بسم الله الرحمن الرحيم قال المصنف ونفعنا بعلومه وبعلومكم آمين 📚 Edisi 2 Ngaji Kitab Fathul Mu'in Bab Shalat.  (ص)، وفرضت لي...

Ngaji

item